Kasus pubertas dini pada anak dilaporkan semakin sering ditemukan, dan kondisi ini membuat orang tua perlu lebih peka terhadap kemungkinan gangguan hormon. Menurut dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp.OG, pubertas prekoks kini juga muncul pada usia yang lebih muda dibandingkan usia normal.
Perubahan fisik yang terjadi lebih cepat dari seharusnya menjadi tanda paling mudah terlihat. Pada anak perempuan, menstruasi pertama yang semula umumnya muncul di usia 11 hingga 12 tahun kini juga dilaporkan terjadi pada usia 8 hingga 9 tahun, bahkan 7 hingga 8 tahun.
Tak hanya soal makanan
Pubertas prekoks adalah proses menuju kematangan seksual yang berlangsung jauh lebih awal dari usia normal. Dalam keseharian, kondisi ini sering disebut puber sebelum waktunya dan bisa membuat tubuh anak tampak lebih dewasa dari usianya.
dr. Ratna menjelaskan, pemicunya tidak hanya berkaitan dengan pola makan, tetapi juga faktor genetik. Pada sebagian anak, kadar hormon yang cenderung lebih tinggi diduga sudah terbentuk sejak masih berada di dalam kandungan.
Ia juga menekankan bahwa kondisi hormonal ibu saat hamil bisa ikut memengaruhi perkembangan calon bayi. Karena itu, paparan hormon tertentu selama kehamilan perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor risiko.
Pemeriksaan hormon dinilai penting
dr. Ratna menilai pemeriksaan hormon penting dilakukan, baik sebelum program kehamilan maupun saat memantau tumbuh kembang anak. Hasil pemeriksaan dapat membantu melihat kadar hormonal dasar dan menentukan intervensi nutrisi yang tepat.
Ia mengingatkan agar pemberian nutrisi pada anak tidak dilakukan tanpa memahami kondisi hormonalnya. Langkah ini diperlukan supaya asupan yang diberikan tidak justru mengubah komposisi hormon di dalam tubuh.
Orang tua perlu peka pada tanda awal
Anak yang tampak lebih besar atau lebih bongsor dibanding teman sebayanya tidak selalu berarti sehat. Orang tua tetap perlu mewaspadai kemungkinan gangguan hormon yang dapat memengaruhi belajar, memicu gangguan menstruasi, dan membuat emosi anak tidak stabil.
Perubahan perilaku yang terlihat lebih dewasa pada anak kecil juga bisa menjadi petunjuk awal yang layak diperiksa lebih lanjut. Dalam kondisi seperti ini, pemantauan medis dibutuhkan agar masalah hormonal tidak terlambat dikenali.
Kaitannya dengan autoimun
dr. Ratna turut menyoroti meningkatnya temuan penyakit autoimun di masyarakat. Ia menyebut sebagian kasus autoimun berkaitan dengan gangguan regulasi hormon dalam tubuh dan sering baru terdeteksi setelah pemeriksaan.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan menyeluruh dinilai penting untuk anak maupun calon ibu. Pemantauan ini membantu tenaga medis melihat potensi gangguan hormon lebih dini, termasuk saat tanda pubertas muncul lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
Source: www.suara.com






