Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Selatan mencatat 523 suspek penyakit tangan kaki dan mulut atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) hingga pekan ke-23. Kasus yang dikenal sebagai Flu Singapura itu sudah muncul di 16 kabupaten dan kota, dengan sebaran paling besar berada di Kota Palembang.
Lonjakan suspek ini menjadi perhatian karena HFMD mudah menular, terutama pada anak usia TK dan SD. Penyakit ini dipicu oleh virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71, sehingga lingkungan sekolah dan rumah tangga perlu lebih waspada terhadap penularan antaranak.
Palembang jadi episentrum kasus
Dari data yang dihimpun Dinkes Sumsel, Palembang mencatat 102 kasus suspek atau hampir 20 persen dari total provinsi. Setelah itu, Kabupaten PALI berada di posisi berikutnya dengan 75 kasus, disusul Musi Banyuasin 61 kasus dan Kota Prabumulih 58 kasus.
Kabupaten Lahat dan Muara Enim sama-sama mencatat 54 kasus, sementara Kota Lubuk Linggau melaporkan 49 kasus. Di wilayah lain, OKU tercatat 19 kasus dan Musi Rawas 17 kasus.
Sebaran tetap meluas ke banyak daerah
Di luar daerah dengan jumlah tertinggi, Dinkes Sumsel juga mencatat Pagar Alam 9 kasus, Banyuasin 8 kasus, OKU Selatan 7 kasus, Empat Lawang 3 kasus, OKU Timur 3 kasus, Muratara 3 kasus, dan OKI 1 kasus. Pola ini menunjukkan HFMD tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi sudah menyebar ke banyak daerah di Sumsel.
Dengan sebaran seperti itu, kewaspadaan di sekolah, tempat bermain, dan rumah menjadi penting. Anak yang berinteraksi dekat dalam kelompok besar punya peluang lebih tinggi untuk saling menularkan penyakit ini.
Mengapa jumlah kasus bisa naik pada musim tertentu
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel Ira Primadesa menjelaskan HFMD bersifat musiman. Kasus cenderung meningkat pada masa peralihan musim dan puncak musim kemarau.
Ira juga menyoroti kondisi anak-anak yang lebih sering berada di dalam ruangan saat cuaca panas, termasuk di ruang ber-AC. Selain itu, iklim panas dan lembap, tingginya interaksi anak di sekolah, penggunaan fasilitas bermain bersama, serta kebiasaan higiene yang belum optimal ikut membuat penularan lebih mudah terjadi.
Gejala awal yang perlu dipantau
HFMD umumnya diawali demam ringan, nafsu makan menurun, dan nyeri tenggorokan. Dalam beberapa hari, sariawan di rongga mulut bisa muncul dan membuat anak sulit makan atau minum.
Setelah itu, bintil berisi cairan dapat muncul di telapak tangan, telapak kaki, lutut, atau bokong. Gejala ini tidak boleh diabaikan karena bisa mengganggu aktivitas anak dan memicu dehidrasi bila asupan cairan berkurang.
Perawatan di rumah dan tanda bahaya
Sebagian besar kasus HFMD dapat pulih dengan perawatan suportif di rumah. Dinkes Sumsel menyebut penanganan dapat dilakukan dengan parasetamol untuk menurunkan demam, obat oles topikal untuk meredakan sariawan, serta pemberian air yang cukup agar anak tidak mengalami dehidrasi.
Orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya seperti kejang, sesak napas, penurunan kesadaran, atau tangan dan kaki yang terasa dingin. Kondisi itu bisa mengarah pada komplikasi serius, termasuk radang otak.
Rincian suspek HFMD di Sumsel hingga pekan ke-23
| Daerah | Kasus Suspek |
|---|---|
| Kota Palembang | 102 |
| Kabupaten PALI | 75 |
| Kabupaten Muba | 61 |
| Kota Prabumulih | 58 |
| Kabupaten Lahat | 54 |
| Kabupaten Muara Enim | 54 |
| Kota Lubuk Linggau | 49 |
| Kabupaten OKU | 19 |
| Kabupaten Musi Rawas | 17 |
| Kota Pagar Alam | 9 |
| Kabupaten Banyuasin | 8 |
| Kabupaten OKU Selatan | 7 |
| Kabupaten Empat Lawang | 3 |
| Kabupaten OKU Timur | 3 |
| Kabupaten Muratara | 3 |
| Kabupaten OKI | 1 |
Jumlah suspek yang sudah menembus 523 kasus membuat HFMD tetap jadi perhatian utama di Sumsel, terutama di wilayah dengan aktivitas anak yang padat. Pemantauan gejala sejak awal dan kebiasaan higiene yang baik menjadi langkah penting untuk menekan penularan.
Source: lifestyle.bisnis.com






