PSIM Kejar Revans Atas Persita, Lima Absensi Jadi Ujian Terberat Laskar Mataram

PSIM Yogyakarta menatap laga kontra Persita Tangerang dengan misi yang cukup jelas, yakni membalas kekalahan 0-4 pada pertemuan pertama. Pertandingan pekan ke-30 Super League 2025/26 di Stadion Sultan Agung, Bantul, itu juga menjadi ujian besar bagi Laskar Mataram yang sedang berusaha memutus tren tanpa kemenangan dalam enam laga terakhir.

Situasi PSIM tidak sedang ideal ketika duel penting ini datang. Tim asuhan Jean Paul Van Gastel turun ke peringkat 10 dengan koleksi 39 poin, sehingga laga kandang melawan Persita membawa bobot lebih dari sekadar perebutan angka.

Lima Absensi yang Mengganggu Persiapan

PSIM harus menyiapkan strategi tanpa kekuatan penuh karena lima pemain dipastikan absen. Tiga nama yang tidak bisa tampil akibat cedera adalah Rahmatsho Rahmatzoda, Anton Fase, dan Fahreza Sudin.

Dua pemain lain, Ezequiel Vidal dan Riyatno Abiyoso, harus menepi karena akumulasi kartu kuning. Kondisi ini membuat opsi rotasi PSIM berkurang dan memaksa tim menyusun ulang skema permainan.

Van Gastel mengakui persiapan berjalan baik, meski tim kehilangan sejumlah pilar penting. Ia menyebut absensi itu datang dari dua faktor yang berbeda, yaitu cedera dan kartu kuning, yang sama-sama memengaruhi kedalaman skuad.

Tekanan Hasil, Bukan Performa

Rentetan hasil yang belum membaik membuat PSIM berada di bawah sorotan. Namun, Van Gastel menolak anggapan bahwa para pemain kehilangan motivasi dalam menjalani rangkaian laga putaran kedua.

“Pemain tidak kekurangan motivasi,” ujar Van Gastel dalam keterangan resmi klub, Kamis (30/4/2026). Ia menilai ada unsur ketidakberuntungan dalam beberapa hasil yang belum berpihak kepada timnya.

Pelatih asal Belanda itu juga menyoroti aspek antisipasi bola mati sebagai salah satu titik lemah yang sudah teridentifikasi. Menurut dia, PSIM bukan tampil buruk, tetapi belum maksimal dalam detail kecil yang sering menentukan hasil akhir.

“Kita sudah perbaiki, jadi bukan karena permainan yang buruk. Namun memang hasil yang tidak berpihak pada kita,” katanya. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa fokus utama tim saat ini adalah menjaga kualitas permainan sambil memperbaiki efektivitas di momen penting.

Luka Kekalahan Pertama Masih Terasa

Kekalahan besar pada pertemuan sebelumnya masih menjadi beban emosional bagi PSIM. Hasil 0-4 bukan hanya meninggalkan catatan pahit, tetapi juga menjadi alasan tambahan bagi Laskar Mataram untuk tampil lebih agresif di kandang sendiri.

Van Gastel melihat situasi ini punya kemiripan dengan fase yang dialami tim pada putaran pertama, ketika konsistensi hasil juga belum ditemukan. Kondisi tersebut membuat laga melawan Persita terasa seperti ujian ketahanan mental sekaligus teknis.

“Kita kalah di putaran pertama lalu. Di putaran kedua ini kita punya kondisi yang hampir sama. Kita belum bisa dapat poin maksimal,” ucapnya. Kalimat itu menunjukkan bahwa PSIM tidak hanya berburu revans, tetapi juga mencari momentum untuk keluar dari periode sulit.

Dukungan Kandang dan Tantangan Struktur Tim

Bermain di Stadion Sultan Agung tetap memberi PSIM keuntungan psikologis. Dukungan publik Bantul dapat menjadi dorongan tambahan ketika tim berusaha menekan Persita sejak awal pertandingan.

Namun, dukungan tribun saja tidak cukup jika PSIM gagal menjaga keseimbangan permainan. Absennya lima pemain membuat laga ini menuntut disiplin lebih tinggi, terutama saat tim harus bertahan dari tekanan dan memaksimalkan peluang yang datang.

Pertemuan dengan Persita akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertandingan liga biasa bagi PSIM. Laga ini menjadi tolok ukur apakah Laskar Mataram mampu menjawab tekanan, menutup celah dari kekalahan terdahulu, dan mengubah kerja keras di lapangan menjadi hasil yang lebih baik.

Source: indoposco.id
Terkait