Puluhan ribu orang turun ke jalan di Prancis untuk memprotes kekerasan seksual setelah kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang anak perempuan berusia 11 tahun memicu amarah publik. Di Paris, penyelenggara menyebut sekitar 100.000 orang ikut dalam aksi yang mereka sebut sebagai mobilisasi bersejarah.
Gelombang protes itu tidak berhenti di ibu kota. Aksi serupa digelar di sekitar 110 kota di seluruh Prancis, termasuk Dijon di timur dan Toulouse di selatan, menandakan luasnya kekecewaan publik terhadap penanganan kasus kekerasan seksual.
Kemarahan yang dipicu kasus Lyhanna
Kasus yang menjadi pusat kemarahan itu berawal dari Lyhanna, bocah 11 tahun yang jasadnya ditemukan bulan lalu setelah hilang pada 29 Mei di kota Fleurance, Prancis barat daya. Tersangka dalam kasus ini adalah pria 41 tahun yang merupakan ayah dari teman sekolah korban.
Pria tersebut disebut dua kali sebelumnya pernah secara resmi dituduh melakukan pemerkosaan terhadap anak. Namun, penyelidikan terhadapnya berhenti atau mandek, dan hal itu memicu sorotan besar terhadap cara sistem peradilan menangani laporan kekerasan seksual, terutama yang melibatkan anak.
| Fakta Utama | Detail |
|---|---|
| Korban | Lyhanna, anak perempuan 11 tahun |
| Lokasi kejadian | Fleurance, Prancis barat daya |
| Tersangka | Pria 41 tahun, ayah dari teman sekolah korban |
| Latar kasus tersangka | 2 kali sebelumnya pernah dituduh resmi melakukan pemerkosaan terhadap anak |
Tekanan besar ke pemerintah
Kematian Lyhanna memicu tuntutan agar Menteri Kehakiman Gerald Darmanin mundur dari jabatannya. Darmanin menolak mengundurkan diri, tetapi menyampaikan permintaan maaf atas apa yang ia sebut sebagai “kegagalan besar”.
Presiden Emmanuel Macron juga menyatakan kekhawatiran atas kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga Prancis setelah adanya kegagalan dalam penyelidikan terhadap tersangka utama dalam kasus tersebut. Di saat yang sama, koalisi yang terdiri dari 180 asosiasi menilai negara membutuhkan undang-undang yang menyeluruh, bukan “langkah-langkah dan undang-undang tambal sulam”, untuk melawan kekerasan seksual dari pencegahan hingga dukungan bagi korban.
Suara dari jalanan
Di Paris, para demonstran meneriakkan slogan seperti “Truth emerges from the mouths of children!” dan “160,000 children, what are you doing?”. Pesan yang dibawa massa jelas: sistem harus lebih berpihak pada korban, bukan melindungi pelaku.
Eline, siswi 17 tahun yang ikut dalam aksi itu, mengatakan bahwa ia telah melaporkan kasus pemerkosaan tahun ini. Ia mengaku justru diperlakukan dengan merendahkan oleh polisi, yang menurutnya mengatakan bahwa itu bukan pemerkosaan dan menuduh laporannya bisa merusak hidup pria tersebut.
Masalah lama dalam penanganan laporan
Menjelang demonstrasi, Anne-Cecile Mailfert, presiden Women’s Foundation, menyoroti lemahnya penanganan laporan pemerkosaan. Ia mengatakan sistem peradilan yang kekurangan dana tidak bisa terus melindungi penyerang daripada korban, sementara 94 persen laporan pemerkosaan ditutup tanpa tindak lanjut.
Kritik itu diperkuat oleh laporan pemerintah pada 2022 yang menyebut keterbatasan staf dan waktu menghambat penyelidikan dugaan pelecehan anak. Laporan itu juga menemukan bahwa dalam 70 persen kasus, setelah mendengar keterangan tersangka, penyidik tidak melakukan pencarian lanjutan atas bukti materi seperti dari ponsel, kamera, atau komputer.
Sejak kasus Lyhanna mencuat, koalisi organisasi itu juga menggelar protes mingguan di depan pengadilan regional di wilayah Gers, tempat korban ditemukan tewas, serta di depan kementerian kehakiman di Paris. Aksi-aksi itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemerintah masih terus meningkat, sementara kemarahan publik belum mereda.







