Prilly Latuconsina menghadapi pengalaman syuting yang tak biasa saat memerankan pocong dalam film pendek Holy Crowd. Ia mengaku sempat migrain karena harus berakting menggunakan kain kafan asli yang dibuat mengikuti bentuk tubuh seperti aslinya.
Peran itu membuat tantangan fisik dan psikologis datang bersamaan. Dalam jumpa pers di Institut Français Indonesia, Jakarta Pusat, Prilly menjelaskan bahwa sensasi mengenakan kain kafan jauh lebih menekan daripada yang ia bayangkan.
Kain kafan yang membungkus rapat
Prilly menuturkan, proses fitting hingga syuting dengan kain kafan terasa sangat berbeda saat dijalani langsung. Kain itu disebut benar-benar mengikuti bentuk asli, sehingga tubuh terasa seolah dibungkus rapat dan membuatnya tidak nyaman.
Setiap kali mengenakannya, Prilly mengaku langsung deg-degan dan overthinking. Kondisi tersebut kemudian memicu migrain selama proses pengambilan gambar berlangsung.
Karakter Ratna yang menuntut totalitas
Di film ini, Prilly memerankan Ratna, sosok perempuan yang mengalami mati suri. Karakter itu menuntut tampilan total dalam balutan kain kafan sekaligus penggambaran pergolakan batin di ambang kematian.
Tantangan Prilly tidak berhenti di kostum menyeramkan. Ia juga harus mengekspresikan emosi dengan gerak tubuh yang terbatas, sehingga setiap detail ekspresi menjadi sangat penting.
Ekspresi minimalis dan diskusi panjang
Dengan tubuh yang terbungkus rapat, Prilly harus mengandalkan ekspresi minimalis agar emosi Ratna tetap tersampaikan. Ia juga perlu memahami keabsurdan yang ada di kepala karakter tersebut, sesuatu yang menurutnya tidak mudah.
Untuk mendalami peran itu, Prilly menjalani diskusi panjang dengan dua sutradara, Reza Fahriyansyah dan Ananth Subramaniam. Pendekatan itu membantu membentuk karakter Ratna agar tetap kuat meski dimainkan dalam ruang gerak yang sempit.
Kolaborasi Indonesia dan Malaysia
Holy Crowd merupakan hasil kolaborasi dua sineas Asia Tenggara, Reza Fahriyansyah dari Indonesia dan Ananth Subramaniam dari Malaysia. Selain Prilly, film ini juga dibintangi Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, dan Arswendy Bening Swara.
Proyek tersebut menjadi bagian dari program perdana Next Step Studio. Film ini juga dijadwalkan menjalani world premiere di Cannes Film Festival 2026 melalui kompetisi La Semaine de la Critique ke-65.
Keterlibatan Holy Crowd di ajang itu menempatkan kisah bernuansa lokal dalam panggung yang lebih besar. Film ini menunjukkan bahwa pendekatan artistik yang kuat masih punya ruang untuk menarik perhatian penonton internasional.
