Prambanan Jazz 2026 memilih langkah yang lebih tegas untuk menonjolkan jazz di panggungnya. Festival yang akan berlangsung selama tiga hari pada 3-5 Juni 2026 di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, itu menyiapkan konsep baru bernama Playing Jazz.
Konsep ini hadir sebagai jawaban atas masukan publik yang menilai karakter jazz di festival tersebut belum cukup terasa. Sejumlah musisi lintas genre akan diberi ruang untuk mengeksplorasi aransemen dengan sentuhan jazz yang lebih kuat, sehingga penampilan mereka diharapkan tampil berbeda dari biasanya.
Identitas jazz dibuat lebih terlihat
Kurator Prambanan Jazz 2026, Shadu Rasjidi, menyebut kritik dari publik justru menjadi tanda bahwa festival ini masih diperhatikan banyak orang. Karena itu, penyelenggara mendorong pendekatan kurasi yang lebih kuat agar identitas jazz tidak tenggelam di tengah perkembangan festival.
“Tahun ini lebih memperlihatkan representasi jazz,” ujar Shadu, Kamis, 2 Juli 2026 di Kompleks Candi Prambanan. Ia menilai festival musik perlu menjaga karakter agar tidak kehilangan arah saat terus berkembang.
Musisi lintas genre masuk format Playing Jazz
Playing Jazz membuka ruang bagi musisi dari genre lain untuk mengolah materi mereka dengan pendekatan yang berbeda. Shadu menjelaskan format ini menarik karena memberi kesempatan kepada para musisi untuk mengeksplor musik jazz dengan gaya masing-masing.
Beberapa nama yang disebut akan tampil dalam format tersebut adalah Perunggu dan The Panturas. Keduanya dikenal lewat karakter musik yang kuat di genre masing-masing, lalu akan menampilkan warna baru saat naik ke panggung Prambanan Jazz 2026.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Nama konsep | Playing Jazz |
| Waktu pelaksanaan | 3-5 Juni 2026 |
| Lokasi | Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta |
| Nama musisi yang disebut | Perunggu, The Panturas |
Keseimbangan artistik dan keberlanjutan festival
Shadu menegaskan bahwa tugas kurator tidak hanya menyusun daftar penampil, tetapi juga memastikan festival tetap berkembang tanpa kehilangan identitas dasarnya. Menurut dia, kurasi harus menjaga keseimbangan antara arah artistik dan keberlanjutan acara.
Ia juga mengingatkan bahwa sebuah festival tidak hanya berdiri di atas panggung. “Festival bukan hanya soal siapa yang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang ratusan orang yang bekerja di baliknya mulai dari pelaku UMKM, sponsor, kru produksi, hingga seluruh ekosistem yang bergerak,” kata dia.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa Prambanan Jazz 2026 tidak sekadar mengejar variasi line-up. Penyelenggara juga berupaya menjaga kesehatan festival dari sisi artistik dan ekonomi agar unsur jazz tetap terasa lebih kuat pada penyelenggaraan berikutnya.
Source: www.suara.com






