Presiden Prabowo Subianto mengungkap bahwa sejumlah BUMN strategis sempat berada di ambang dijual ke pihak asing karena kinerjanya buruk. Ia menolak langkah itu dan memilih mendorong pembenahan agar aset negara tetap bertahan di tangan Indonesia.
Nama-nama seperti PT PAL, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, hingga Garuda Indonesia ikut disebut dalam pernyataan tersebut. Menurut Prabowo, perusahaan-perusahaan itu kini mulai menunjukkan perbaikan setelah melalui penataan ulang dan upaya restrukturisasi.
PT PAL, Pindad, dan PTDI Masuk Daftar yang Dibangkitkan
Prabowo menyebut PT PAL sempat disebut akan dijual, padahal perusahaan itu kini sudah mampu memproduksi kapal perang, kapal selam, dan mengembangkan kapal dengan teknologi yang lebih maju. Capaian itu, menurut dia, menjadi tanda bahwa industri pertahanan nasional masih bisa bangkit bila dikelola dengan benar.
Untuk PT Pindad, Prabowo mengungkap adanya laporan kontrak dari Arab Saudi untuk penyediaan senapan dan senapan mesin bagi militer negara tersebut. Perkembangan itu disebut sebagai sinyal bahwa produk pertahanan Indonesia masih punya peluang di pasar internasional.
PT Dirgantara Indonesia juga disebut sempat “dibunuh” dan hendak dijual. Namun pemerintah, kata Prabowo, memilih membangkitkan kembali kemampuan industri nasional ketimbang melepasnya ke pihak asing.
| Perusahaan | Situasi yang Disebut Prabowo | Perkembangan Terkini |
|---|---|---|
| PT PAL | Sempat hendak dijual | Memproduksi kapal perang, kapal selam, dan mengembangkan kapal berteknologi lebih maju |
| PT Pindad | Sempat hendak dijual | Mendapat kontrak dari Arab Saudi untuk senapan dan senapan mesin |
| PT Dirgantara Indonesia | Sempat “dibunuh” dan mau dijual | Disebut sedang dibangkitkan kembali |
| Garuda Indonesia | Sempat hampir dilepas ke investor asing | Disebut bulan depan sudah mulai untung |
Garuda Indonesia dan BUMN yang Mulai Berbalik Arah
Selain sektor pertahanan, Prabowo juga menyinggung Garuda Indonesia yang menurutnya sempat hampir dijual. Ia mengatakan pemerintah tengah memperbaiki tata kelola maskapai nasional itu dan berharap perusahaan tersebut segera kembali mencetak laba setelah bertahun-tahun merugi.
“Garuda tadinya mau dijual, bulan depan sudah mulai untung. Pelan-pelan kita perbaiki semua kekurangan,” kata Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden. Pernyataan itu menggambarkan arah pembenahan yang tidak hanya menyasar aset strategis, tetapi juga BUMN yang selama ini terbebani kerugian.
Prabowo juga mengaku menerima laporan bahwa sejumlah BUMN yang selama puluhan tahun merugi kini mulai untung. Menurutnya, perubahan itu muncul setelah restrukturisasi yang dilakukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Ia menilai pembenahan tersebut penting karena sebagian BUMN selama ini menjadi tempat praktik korupsi yang menggerus kinerja perusahaan. Karena itu, restrukturisasi disebut bukan hanya untuk menutup kerugian, tetapi juga menertibkan tata kelola yang selama ini dibiarkan berantakan.
Danantara Menertibkan Ratusan BUMN Tidak Sehat
Prabowo mengatakan saat awal menjabat, ia baru mengetahui jumlah BUMN beserta anak usahanya mencapai 1.077 entitas. Ia bahkan menyebut masih ada kemungkinan lapisan anak, cucu, hingga cicit perusahaan yang dipakai untuk menyembunyikan uang negara dan uang rakyat.
Menurutnya, kondisi itu sedang ditertibkan melalui konsolidasi dan penataan ulang perusahaan pelat merah. Danantara disebut telah menutup sekitar 240 BUMN yang dinilai tidak sehat dan merugi, dengan target bertambah menjadi sekitar 250 perusahaan pada akhir Juli.
Pemerintah berharap langkah tersebut membuat BUMN lebih efisien, lebih kuat bersaing, dan memberi kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Di sisi lain, pernyataan Prabowo menunjukkan keinginan untuk mempertahankan kendali atas perusahaan strategis yang dianggap terlalu mudah dilepas.
