
PLN memperkuat peran sosial perempuan melalui Srikandi Movement dengan menjangkau lebih dari 40 ribu penerima manfaat di lebih dari 140 lokasi di berbagai wilayah Indonesia. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan ini menempatkan perempuan sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat, sekaligus memperluas kontribusi PLN di luar sektor kelistrikan.
Inisiatif tersebut selaras dengan semangat Hari Kartini karena mendorong perempuan PLN hadir sebagai agen perubahan yang membawa manfaat nyata bagi keluarga dan komunitas. Program ini tidak berhenti pada kegiatan simbolik, melainkan menyasar pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi secara langsung.
Lima pilar gerakan
Srikandi Movement dibangun lewat lima pilar utama, yaitu Srikandi Goes to School/Campus, Srikandi Sahabat Anak, Women Support Women, Srikandi Care, dan Inspiring Srikandi. Masing-masing pilar disusun untuk menjawab kebutuhan yang berbeda, mulai dari kapasitas perempuan, perlindungan anak, sampai kesehatan keluarga.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa Srikandi PLN didorong untuk memberi nilai tambah bagi publik. Ia menyebut kehadiran PLN harus menghadirkan manfaat yang lebih luas, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan, melalui dorongan kemandirian dan peningkatan kualitas hidup.
Perempuan dan ekonomi keluarga
Dari seluruh rangkaian program, Women Support Women menjadi salah satu yang paling menonjol karena menyasar kemandirian ekonomi perempuan. Program ini memberi akses, peluang, keterampilan, dan pendampingan usaha agar perempuan dapat mengembangkan usaha secara lebih kuat.
Ketua Harian Srikandi PLN Kamia Handayani menyampaikan bahwa Women Support Women telah menjangkau 1.296 penerima manfaat dari 36 kelompok. Program ini juga mencatat skor Social Return on Investment atau SROI sebesar 5,79, yang menunjukkan manfaat sosialnya dinilai tinggi dibanding biaya yang dikeluarkan.
Kamia menjelaskan bahwa pendekatan program tidak berhenti pada bantuan awal. Perempuan juga didorong membangun jejaring agar usaha mereka lebih berkelanjutan dan mampu tumbuh dalam jangka panjang.
Pengalaman pelaku UMKM asal Manado, Sulawesi Utara, Lanny Juliana Mogot, memperlihatkan dampak itu di lapangan. Lanny menyebut program tersebut tidak hanya memberi bantuan, tetapi juga ilmu dan pendampingan yang membantunya meningkatkan penghasilan keluarga.
Pendidikan untuk anak dan generasi muda
Di jalur pendidikan, Srikandi Goes to School/Campus membawa materi di luar kurikulum formal untuk memperluas wawasan peserta. Program ini telah melibatkan 5.102 peserta dan 240 tenaga pendidik di 60 titik lokasi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya diarahkan kepada perempuan dewasa, tetapi juga kepada generasi muda. PLN menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari upaya membangun kapasitas sosial sejak dini.
Srikandi Sahabat Anak juga menjadi bagian penting dari gerakan ini. Inisiatif tersebut telah menjangkau 16.591 anak dan 301 guru di 83 sekolah serta lembaga pendidikan dengan nilai SROI 2,59.
Program itu diarahkan untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak melalui edukasi, pendampingan, dan bantuan kebutuhan dasar. Fokusnya berada pada kesejahteraan anak agar lingkungan belajar dan tumbuh mereka lebih baik.
Kesehatan ibu, anak, dan penguatan internal
Melalui Srikandi Care, PLN ikut mendukung upaya menekan stunting serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Program ini menyasar 7.309 ibu dan 3.249 anak dengan nilai efektivitas investasi sosial sebesar 2,68.
Di sisi lain, Inspiring Srikandi dijalankan untuk meningkatkan kompetensi perempuan di lingkungan PLN. Sebanyak 8.400 peserta perempuan disebut telah mengikuti program ini sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa Srikandi Movement tidak hanya berfokus pada satu isu, melainkan merangkai pemberdayaan perempuan, pendidikan, perlindungan anak, dan kesehatan keluarga dalam satu kerangka dampak sosial. Dengan cakupan yang luas, program ini menempatkan perempuan bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga sebagai mesin perubahan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat.





