Lele sering dianggap praktis, tetapi banyak keluarga tetap enggan mengolahnya karena bentuk ikan mudah melengkung saat digoreng dan durinya terasa merepotkan. Di Jawa Tengah, PKK mencoba menjawab masalah itu lewat pelatihan pengolahan ikan yang langsung menyentuh cara masak paling dasar.
Di Balai Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, kader dan Tim Penggerak PKK mendapat demonstrasi agar lele tetap lurus saat digoreng dan lebih mudah diterima anggota keluarga, terutama anak-anak. Kegiatan ini juga menekankan pemanfaatan lahan pekarangan untuk pemenuhan pangan keluarga berbasis protein ikan.
Garam Jadi Langkah Awal Agar Lele Tidak Remuk
Mohamad Hendrik dari Kelompok Pengolah dan Pemasar Lele Legend membagikan teknik sederhana yang bisa langsung dipraktikkan di dapur rumah. Ia menyarankan garam ditaburkan lebih dulu pada ikan agar lendir cepat hilang, bau amis berkurang, dan lele bisa digoreng tetap lurus.
Menurut Hendrik, langkah awal yang terlihat sepele itu membantu menjaga tekstur daging lele supaya tidak remuk saat masuk ke wajan. Ukuran lele yang dianggap enak untuk diolah berada di kisaran 7-10 ekor per kilogram.
Filet Jadi Jalan Keluar dari Masalah Duri
Untuk mengurangi gangguan duri, Hendrik menyarankan lele difilet terlebih dulu sebelum diolah. Prosesnya dimulai dengan memotong kepala, lalu menyayat bagian punggung atas mengikuti arah tulang ikan sampai tulangnya terlepas.
Bentuk filet itu masih bisa menyerupai lele utuh saat dilipat kembali, sehingga tampilannya tetap menarik setelah digoreng. Pada bagian dada yang masih menyisakan duri, ikan dapat digoreng kering atau digoreng tepung setelah setengah matang terlebih dulu.
Bakso Lele Dibuat Tanpa Bau Amis
Pelatihan tidak berhenti pada teknik menggoreng. Peserta juga belajar membuat bakso ikan lele dengan pendekatan yang sama, yaitu memaksimalkan filet sejak awal agar hasil olahan lebih bersih dan tidak amis.
Titik Sayekti dari Poklahsar Terampil Mandiri menjelaskan bahwa filet lele tanpa kulit dicampur perasan jeruk nipis terlebih dulu, lalu dibilas sebelum diberi bumbu bawang putih, telur ayam, garam, merica bubuk, tepung tapioka, kaldu bubuk, dan es batu. Penggunaan filet tanpa kulit juga membuat warna bakso lebih cantik, sementara adonan yang sudah dibulatkan langsung dimasak.
Lele Pekarangan Didorong Jadi Menu Harian
Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Jawa Tengah, Indah Sumarno, mewakili Ketua TP PKK Hj. Nawal Arafah Yasin, menekankan pentingnya pengolahan ikan untuk meningkatkan konsumsi keluarga. Ikan disebut sebagai sumber protein hewani dengan protein berkualitas tinggi, omega-3, vitamin, dan mineral yang penting untuk perkembangan otak anak.
Program itu dijalankan TP PKK Jateng bersama Dinas Kelautan dan Perikanan, Bank Indonesia, serta Baznas. Melalui kolaborasi tersebut, gerakan gemar makan ikan terus disosialisasikan ke masyarakat.
Karanganyar Masih Perlu Mengejar Angka Konsumsi Ikan
Indah menyebut angka konsumsi ikan di Karanganyar masih 14,10, di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang tercatat 16,32. Karena itu, kegiatan di Plumbon diarahkan agar masyarakat lebih mudah mengolah ikan dan menjadikannya menu harian.
Ia juga menegaskan Karanganyar yang jauh dari pantai bukan alasan untuk tidak mengonsumsi ikan. Lele dinilai cocok dibudidayakan di lahan minim, termasuk di pekarangan rumah.
Budikdamber Jadi Opsi untuk Lahan Sempit
Budidaya ikan dalam ember atau budikdamber disebut cocok untuk wilayah dengan lahan sempit karena bisa memakai ember atau terpal. Ketersediaan air di daerah itu juga mendukung, sementara pakan lele relatif mudah diperoleh.
Selain budidaya, warga juga diarahkan memahami cara mengolah hasil panen agar tidak berhenti di proses pemeliharaan saja. Lele bisa dibuat filet atau bakso, sehingga hasil budidaya lebih mudah diterima seluruh anggota keluarga.
Indah berharap bantuan dari TP PKK, pemerintah provinsi, dan Bank Indonesia bisa terus berkembang. Ia juga mendorong informasi budikdamber disebarluaskan agar pemanfaatan pekarangan semakin luas dan konsumsi ikan di keluarga ikut meningkat.
