Pintu Terkunci, Asap Beracun, dan Jalur Evakuasi Buntu di Balik Maut Kebakaran Bar Bangkok

Author: Cung Media

Kebakaran di Rong Beer Na Lat Phrao, Bangkok, berubah menjadi tragedi besar bukan hanya karena api, tetapi karena rangkaian kegagalan keselamatan yang mematikan. Pintu darurat yang terkunci, dua pintu utama yang terhalang furnitur, dan ketiadaan penerangan darurat membuat banyak orang terjebak saat asap memenuhi ruangan.

Di tengah penyelidikan, para ahli menilai korban kemungkinan lebih dulu kalah oleh asap beracun sebelum sempat menyelamatkan diri. Situasi di dalam bar menjadi semakin berbahaya ketika listrik padam dan interior langsung gelap, sementara jalur keluar yang seharusnya membantu evakuasi justru tidak bisa diakses.

Api Diduga Bermula dari Korsleting Pendingin Ruangan

Penyidik menemukan dugaan awal bahwa kebakaran dipicu korsleting listrik pada pendingin ruangan. Korsleting itu memutus aliran listrik dan membuat bagian dalam bar seketika gelap, sehingga pengunjung kehilangan orientasi saat kepanikan mulai terjadi.

Api kemudian diduga cepat membesar karena penggunaan dekorasi plastik dan busa mudah terbakar di area panggung. Jenderal Polisi Kittiratt Phanphet menyebut kondisi itu menunjukkan kurangnya kehati-hatian dan pengabaian terhadap keselamatan pengunjung.

Korban Banyak Ditemukan di Toilet Belakang

Sebagian besar korban tewas ditemukan menumpuk di toilet yang berada di bagian belakang bar. Mereka diduga berlari ke area itu untuk menjauh dari api yang muncul di panggung utama.

Busakorn Saensuk dari Engineering Institute of Thailand menjelaskan bahwa orang secara naluriah akan bergerak menjauhi api ke bagian belakang ruangan. Namun saat sampai di sana, mereka tidak bisa keluar karena pintu keluar di dekat toilet terkunci dan dua pintu utama terhalang tumpukan furnitur.

Temuan di Lokasi Kondisi Dampak
Pintu keluar dekat toilet Terkunci Korban terjebak di bagian belakang
Dua pintu utama Terhalang furnitur Jalur kabur tertutup
Penerangan darurat Tidak ada Korban sulit menemukan jalan keluar

Busakorn menilai penerangan darurat seharusnya membantu orang melihat pintu yang terkunci dan mencari cara membukanya. Dalam kondisi gelap total, peluang selamat menjadi jauh lebih kecil.

Asap Beracun Disebut Membunuh Lebih Dulu

Profesor teknik struktur Worsak Kanok Nukulchai menilai asap beracun menjadi pembunuh pertama sebelum api menyentuh tubuh korban. Ia menyebut reaksi material plastik dan plafon busa menghasilkan karbon monoksida serta hidrogen sianida yang sangat mematikan.

Analisis itu memperkuat dugaan bahwa banyak korban kehilangan kesadaran dalam waktu singkat. Di ruang tertutup yang penuh asap, evakuasi menjadi makin sulit dan waktu untuk menyelamatkan diri semakin sempit.

Status Izin dan Rekam Jejak Pemilik Ikut Disorot

Investigasi juga mengungkap bar tersebut terdaftar sebagai restoran musik hidup, bukan tempat hiburan malam resmi. Celah hukum itu diduga membuat pengelola tidak diwajibkan secara hukum untuk memakai material bangunan tahan api.

Media lokal juga melaporkan bahwa pemilik Rong Beer Na Lat Phrao memiliki rekam jejak buruk terkait kebakaran. Ia disebut pernah memiliki pub di Provinsi Yasothon yang juga ludes terbakar pada Desember 2019.

Kebakaran di Yasothon itu terjadi saat siang hari ketika tempat tersebut kosong tanpa pengunjung. Meski begitu, catatan tersebut kini ikut diperhatikan dalam penyelidikan pidana di Bangkok, bersamaan dengan peninjauan ulang standar bahan bangunan untuk seluruh kategori tempat usaha kuliner oleh Pemerintah Kota Bangkok.

Di tengah proses identifikasi, 27 jenazah korban tewas telah berhasil dikenali. Sementara itu, 24 dari 70 korban luka masih berada dalam kondisi kritis.

Peristiwa ini juga menghancurkan grup band indie lokal Thotsakan yang tampil malam itu, karena dua personelnya dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Tragedi ini meninggalkan pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah tempat usaha bisa berubah menjadi perangkap maut ketika keselamatan dasar tidak tersedia.

Source: www.suara.com
Terbaru