AS Perketat Sanksi ke Minyak Iran dan Kripto, Pasar Energi Makin Siaga

Author: Cung Media

Amerika Serikat kembali menambah tekanan ke Iran lewat dua jalur yang paling sensitif bagi ekonomi negara itu, yakni minyak dan aset digital. Langkah ini membuat pasar energi global makin waspada karena gangguan di Selat Hormuz belum mereda.

Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru pada Selasa (14/7/2026) di tengah memanasnya konflik Washington dan Teheran. Paket ini menyasar jaringan pelayaran yang dikendalikan Mohammad Hossein Shamkhani, yang disebut sebagai salah satu penggerak ekspor minyak Iran.

Jaringan Pelayaran Iran Kembali Ditekan

Menurut Departemen Keuangan AS, jaringan Shamkhani tidak hanya bergerak di minyak, tetapi juga merambah pengiriman peti kemas dan perdagangan komoditas global. Sanksi terbaru mencakup lebih dari 50 individu, perusahaan, dan kapal yang dinilai membantu Iran memperoleh pendapatan dari penjualan minyak.

Dengan tambahan tersebut, AS kini telah menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 200 individu, entitas, dan kapal yang terkait dengan jaringan itu. Pemerintah AS juga menyebut jaringan tersebut telah lama memakai perusahaan cangkang, armada kapal tanker, dan perusahaan logistik di berbagai negara untuk menghindari sanksi internasional.

Fokus Sanksi Rincian Skala
Jaringan pelayaran Shamkhani Diduga membantu ekspor minyak Iran dan perdagangan komoditas Lebih dari 50 individu, perusahaan, dan kapal
Sanksi kumulatif AS Keterkaitan dengan jaringan Shamkhani Lebih dari 200 individu, entitas, dan kapal
Aset digital Iran Diduga terkait Bank Sentral Iran Lebih dari US$ 130 juta dibekukan

Aset Kripto Juga Masuk Bidikan

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan lebih dari US$ 130 juta aset digital dibekukan karena diduga terkait dengan Bank Sentral Iran. Ia menilai jalur keuangan digital makin penting bagi Iran sejak konflik kembali memanas.

Dalam unggahan di akun X, Bessent menulis, “Kami akan terus secara agresif mengikuti aliran dana tersebut dan menolak akses rezim Iran terhadap hasil dari skema pendapatan ilegalnya,” dikutip dari TRT World. Pernyataan itu menegaskan bahwa Washington kini membidik bukan hanya kapal dan minyak, tetapi juga arus uang digital.

Selama bertahun-tahun, Iran berada di bawah sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Kondisi itu membuat banyak pelaku usaha di negara tersebut memanfaatkan cryptocurrency sebagai jalur alternatif untuk pembayaran lintas negara dan menjaga aktivitas perdagangan.

Selat Hormuz Menambah Risiko Pasar

Langkah baru AS datang ketika militer negara itu terus melancarkan serangan terhadap Iran selama empat hari berturut-turut dan mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada saat yang sama, Iran juga disebut terus mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Selat Hormuz memegang peran penting dalam pasokan energi dunia. Sebelum konflik terbaru pecah, sekitar 20% perdagangan minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut melewati jalur sempit tersebut setiap hari.

Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memukul sentimen pasar energi global. Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami gangguan operasional, sementara perusahaan pelayaran mulai menaikkan biaya pengiriman akibat tingginya risiko keamanan.

Harga Minyak Makin Rentan Melompat

Iran memiliki sekitar 209 miliar barel cadangan minyak mentah terbukti, salah satu yang terbesar di dunia. Besarnya cadangan itu membuat setiap gangguan pada produksi dan ekspor Iran berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan energi internasional.

Kekhawatiran pasar sudah terlihat, dengan harga minyak Brent sempat naik hingga sekitar US$ 87 per barel setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran dan memperketat tekanan terhadap sektor energinya. Jika ekspor minyak Iran terus terhambat dan ketidakpastian di Selat Hormuz berlanjut, harga minyak mentah dinilai berpotensi menembus US$ 100 per barel atau lebih tinggi.

Dampaknya tidak berhenti di sektor energi. Biaya logistik, inflasi, dan tekanan terhadap perekonomian dunia juga bisa ikut meningkat bila jalur pasokan utama ini terus terganggu.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru