Piala Dunia 2026 diperkirakan berlangsung di tengah ancaman panas ekstrem di sejumlah kota tuan rumah di Amerika Utara. Di beberapa lokasi, suhu bahkan bisa melampaui 43 derajat celsius, sehingga FIFA menyiapkan langkah khusus untuk melindungi para pemain.
Risiko utamanya bukan sekadar rasa tidak nyaman. Dalam kondisi seperti itu, tubuh atlet bisa lebih cepat mengalami dehidrasi, pusing, kram otot, sakit kepala, hingga kelelahan berat saat bertanding dengan intensitas tinggi.
Panas yang Mengubah Cara Bermain
Paparan suhu tinggi dapat membuat pemain kehilangan cairan dan energi lebih cepat dari biasanya. Jika kondisi ini terus berlanjut, risiko penyakit akibat panas akan meningkat dan berpengaruh langsung pada performa di lapangan.
Dalam situasi yang lebih parah, atlet bisa mengalami exertional heat stroke, yakni serangan panas akibat aktivitas fisik. Kondisi ini termasuk keadaan darurat medis dan disebut sebagai salah satu penyebab utama kematian pada atlet.
Cuaca panas juga memengaruhi pola permainan. Pemain cenderung menurunkan intensitas lari, menempuh jarak yang lebih pendek, dan menghemat tenaga agar bisa bertahan sampai akhir pertandingan.
Aturan Khusus FIFA di Lapangan
Mengutip laporan Al Jazeera, FIFA menerapkan dua kali jeda minum wajib selama tiga menit di setiap pertandingan. Jeda itu diberikan pada pertengahan babak pertama dan kedua, tanpa membedakan apakah laga digelar di stadion terbuka atau tertutup.
Kebijakan ini dibuat untuk memberi kesempatan pemain memulihkan kondisi tubuh di tengah suhu tinggi. Meski begitu, aturan tersebut sempat menuai kritik dari sebagian penggemar, pelatih, dan pemain karena dianggap mengganggu ritme pertandingan.
Sejumlah kritik juga menyoroti kemungkinan jeda minum memberi ruang tambahan bagi penyiar untuk menayangkan iklan. Presiden FIFA Gianni Infantino membantah tudingan bahwa federasi ingin mengambil keuntungan dari kebijakan itu.
“Alasan utamanya adalah panas dan bahwa organisasi tersebut sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari jeda tersebut,” kata Infantino.
Langkah Perlindungan Lain
Selain jeda minum, FIFA tetap mengizinkan setiap tim melakukan hingga lima pergantian pemain. Aturan ini memberi pelatih lebih banyak opsi untuk menjaga kebugaran skuad di bawah cuaca yang berat.
FIFA juga memastikan ada jeda minimal tiga hari antarlaga. Di stadion terbuka, staf pelatih dan pemain cadangan dapat memanfaatkan bangku berpendingin udara untuk membantu mengurangi tekanan akibat panas.
Pada April lalu, FIFA menyatakan jadwal pertandingan telah disusun dengan mempertimbangkan kondisi cuaca panas. Pertandingan luar ruangan pada bagian terpanas hari itu dibatasi secara strategis, waktu kick-off disesuaikan, dan laga yang diperkirakan lebih panas diprioritaskan ke stadion tertutup jika memungkinkan.
Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pemain menjadi perhatian utama di tengah ancaman suhu ekstrem. Dengan pengaturan jadwal, jeda minum, pergantian pemain, dan fasilitas pendukung, FIFA berupaya menjaga pertandingan tetap berjalan dalam kondisi yang lebih aman.
