Di Indonesia pada masa Piala Dunia 1978, banyak penonton justru sudah tahu hasil pertandingan sebelum tayang di televisi. Koran pagi lebih dulu membocorkan skor, sementara TVRI baru menayangkan rekaman beberapa hari kemudian.
Situasi itu membuat pengalaman menonton sepak bola terasa sangat berbeda dengan sekarang. Alih-alih menunggu hasil di akhir laga, warga lebih dulu membaca siapa yang menang, siapa yang kalah, dan siapa pencetak golnya.
Hanya dua laga yang dibeli hak siarnya
Pada saat itu, Indonesia hanya memiliki satu stasiun televisi nasional, yakni TVRI. Kemampuannya untuk memperoleh siaran langsung dari luar negeri juga masih terbatas.
Untuk Piala Dunia 1978 di Argentina, TVRI hanya membeli hak siar dua pertandingan, yaitu perebutan tempat ketiga dan partai final. Laga lain tidak disiarkan langsung, melainkan diputar dalam bentuk rekaman.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Stasiun televisi | TVRI |
| Hak siar yang dibeli | 2 pertandingan |
| Jenis laga | Perebutan tempat ketiga dan final |
| Bentuk tayangan lainnya | Rekaman pertandingan |
Rekaman tayang lebih lambat dari jadwal asli
Menurut koran Akçaya edisi 2 Juni 1978, TVRI menyiarkan rekaman pertandingan babak penyisihan grup dengan 36 tim. Jika pengirimannya lancar, rekaman itu dijadwalkan tayang setiap hari mulai 5 Juni hingga 23 Juni.
Masalahnya, Piala Dunia 1978 sendiri sudah mulai bergulir pada 1 Juni. Artinya, penonton Indonesia menonton dengan selisih beberapa hari dari jadwal asli pertandingan.
Selisih waktu itu membuat hasil laga lebih dulu tersebar melalui koran yang terbit setiap pagi. Penonton televisi akhirnya datang bukan untuk mencari tahu hasil, tetapi untuk melihat jalannya pertandingan yang sudah mereka ketahui lebih dulu.
Jam tayang juga terbatas
TVRI menayangkan ulangan mulai pukul 15.30 WIB hingga tengah malam. Tayangan itu juga tidak berlangsung nonstop, melainkan selang-seling sesuai jadwal siaran yang tersedia.
Kondisi tersebut justru memunculkan kebiasaan nonton bareng di masyarakat. Orang-orang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan yang skornya sudah bocor lebih dulu, tetapi tetap menarik dinikmati dalam bentuk rekaman.
Fenomena ini menunjukkan betapa terbatasnya akses siaran internasional pada masa itu. Di era sekarang, pertandingan bisa diakses lewat televisi, ponsel, atau layanan streaming, sedangkan pada 1978 warga Indonesia harus puas dengan tayangan terlambat yang lebih dulu “dibocorkan” koran pagi.
Pengalaman itu juga menggambarkan bagaimana teknologi siaran, hak tayang, dan akses media membentuk cara publik menikmati Piala Dunia. Pada masa itu, skor akhir pertandingan bisa sampai ke pembaca lebih cepat daripada gambar pertandingannya sendiri.
