PHE Tetap Gaspol Migas Sambil Dorong Bisnis Rendah Karbon, Ketahanan Energi Dipertaruhkan

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memilih menahan laju bisnis migas sambil mempercepat portofolio rendah karbon untuk satu tujuan yang sama: menjaga ketahanan energi nasional. Strategi ganda ini menjadi penting karena PHE memegang porsi besar dalam pasokan energi Indonesia, dengan kontribusi 65 persen produksi minyak nasional dan 37 persen produksi gas nasional.

Bagi PHE, penguatan bisnis inti tetap tidak bisa ditawar di tengah kebutuhan energi yang masih tinggi. Di saat yang sama, perusahaan juga harus menyiapkan sumber pertumbuhan baru agar transisi energi tidak mengganggu pasokan hari ini.

Produksi migas masih jadi tumpuan utama

Direktur Manajemen Risiko PHE Whisnu Bahriansyah menyebut kinerja operasional perusahaan ditopang oleh operasi 27 persen blok migas di Indonesia. Sepanjang 2025, PHE mencatat produksi minyak 556.000 barrel per hari atau MBOPD dan gas 2,75 miliar standar kaki kubik per hari atau BSCFD.

Skala itu didukung aktivitas hulu yang besar, mulai dari 887 pengeboran sumur pengembangan, well service pada 37.266 sumur, hingga 1.288 kegiatan workover. Rangkaian pekerjaan tersebut menunjukkan upaya perusahaan menjaga produksi tetap stabil di tengah tekanan kebutuhan energi nasional.

Whisnu menegaskan pendekatan manajemen risiko yang adaptif dan terintegrasi dipakai agar transformasi perusahaan tetap selaras dengan ketahanan energi nasional. PHE juga menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang antara penguatan bisnis inti migas dan pengembangan bisnis rendah karbon.

Transisi energi mulai masuk ke inti strategi

Di luar hulu migas, PHE memperbesar perhatian pada risiko jangka panjang dari transisi energi global. Perusahaan menempatkan inisiatif keberlanjutan sebagai bagian dari strategi utama, bukan sekadar aktivitas tambahan.

Pada aspek lingkungan, PHE mempertahankan peringkat MSCI ESG “BBB”. Perusahaan juga mencatat pengurangan emisi karbon sebesar 1.619.564 ton COe, yang menandakan adanya pengendalian dampak emisi dalam operasinya.

PHE turut mengembangkan proyek Carbon Capture & Storage atau CCS dan Carbon Capture, Utilization & Storage atau CCUS. Melalui teknologi itu, perusahaan menargetkan kapasitas penyimpanan 7,3 gigaton hingga 2030.

Deretan proyek baru ikut menguatkan portofolio

Dalam rentang 2024–2025, PHE mencatat sejumlah capaian proyek yang memperkuat ruang tumbuh perusahaan. Di antaranya injeksi CO2 Sukowati, penemuan sumber daya 2C di Tedong sebesar 108,05 juta barel setara minyak atau BOE, serta pelaksanaan Multi Stage Fracturing di sumur Kotabatak.

Perusahaan juga mengembangkan North Duri A14, Greenfield Akasia yang berproduksi 3.200 BOPD, dan Lapangan Padang Pancuran I. Kehadiran proyek-proyek ini menunjukkan pertumbuhan PHE tidak hanya bertumpu pada aset yang sudah berjalan, tetapi juga pada pengembangan aset baru.

Di sisi lain, PHE menjalankan EOR Chemical di Minas, mengoperasikan Area of Interest Sisi Nubi dengan kapasitas 70 MMSCFD, dan merevitalisasi sumur Step Out Abab. Kombinasi proyek tersebut memperkuat cadangan produksi sekaligus memperluas opsi pengelolaan aset migas.

Arah ekspansi berikutnya masih terbuka

Untuk tahap lanjutan, PHE menyiapkan proyek Blok Lavender, Greenfield OO-OX ONWJ, eksplorasi laut dalam Natuna Timur, dan pengembangan Wilayah Kerja Rokan. Perusahaan juga mengarahkan pemanfaatan Artificial Intelligence atau AI serta CCS Asri Basin sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berikutnya.

Kunjungan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung ke Tangerang ikut menegaskan bahwa strategi ganda PHE berada dalam sorotan di tengah kebutuhan nasional menjaga pasokan energi dan mempercepat transisi. Dengan basis produksi yang besar dan proyek rendah karbon yang terus bergerak, PHE kini berada di titik penting antara menjaga kebutuhan energi hari ini dan menyiapkan bisnis yang lebih berkelanjutan untuk masa depan.

Terkait