Petugas Kurban Wajib APD, Langkah Kecil Ini Menentukan Cegah Antraks Saat Iduladha

Author: Cung Media

Iduladha selalu identik dengan semangat berbagi daging kurban, tetapi di balik itu ada risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Kementerian Kesehatan meminta panitia kurban dan petugas penyembelihan menerapkan sanitasi ketat serta memakai alat pelindung diri untuk menekan ancaman penyakit zoonosis, terutama antraks.

Imbauan ini muncul karena proses kurban melibatkan kontak langsung dengan hewan, darah, dan limbah yang dapat menjadi sumber infeksi bila tidak ditangani dengan benar. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menegaskan ada empat kewaspadaan utama yang perlu diperhatikan masyarakat saat menangani hewan kurban.

Waspada sejak memilih hewan

Tahap paling awal justru menjadi pintu risiko yang sering diabaikan, yakni saat memilih dan membeli hewan kurban. Masyarakat diminta tidak membeli hewan yang tampak sakit atau menunjukkan gejala tidak sehat.

Menurut Andi, kontak langsung dengan hewan yang berpotensi terinfeksi bisa meningkatkan risiko penularan penyakit. Karena itu, tangan perlu segera dicuci dengan sabun setelah memegang hewan agar kebersihan tetap terjaga.

Transportasi dan penampungan tidak boleh sembarangan

Risiko berikutnya muncul ketika hewan dipindahkan dan ditampung bersama dari berbagai daerah. Pada fase ini, panitia dan penjual perlu memastikan hewan sehat tidak bercampur dengan hewan yang sakit.

Kebersihan kendaraan pengangkut ternak juga harus dijaga agar tidak menjadi media penyebaran penyakit. Jika ada hewan yang diduga sakit, Kemenkes meminta agar segera dilaporkan ke dinas peternakan.

Penyembelihan adalah fase paling berisiko

Bagian yang dinilai paling berisiko adalah penyembelihan dan pencacahan daging karena petugas bersentuhan langsung dengan darah dan limbah hewan. Untuk itu, Kemenkes meminta petugas memakai minimal empat APD, yaitu celemek atau apron, masker, sarung tangan, dan sepatu bot.

Masker penting karena antraks dapat menular lewat inhalasi atau saluran pernapasan. Sarung tangan membantu melindungi petugas dari kontak dengan darah dan kotoran, sedangkan sepatu bot dipakai untuk mengurangi risiko penularan melalui area kaki.

Lokasi kerja dan limbah harus dikendalikan

Kemenkes juga meminta penyembelihan dilakukan di permukaan semen atau papan, bukan langsung di tanah. Darah hasil sembelihan disarankan dialirkan ke lubang khusus dan tidak dibuang ke sungai maupun badan air lain.

Limbah padat seperti organ dalam dan kotoran hewan juga harus dikubur dengan baik agar tidak memicu penularan antraks. Setelah proses selesai, area penyembelihan perlu dibersihkan lalu didesinfeksi, bukan hanya disiram tanpa perlakuan lanjutan.

Pengelolaan limbah menentukan keamanan lingkungan

Pengelolaan limbah kurban menjadi tahap akhir yang tak kalah penting dalam pencegahan penularan. Kemenkes meminta limbah cair seperti darah dipisahkan dari limbah padat seperti isi perut dan kotoran agar pembersihan lebih efektif.

Setelah semua proses selesai, lokasi penyembelihan harus tetap diawasi kebersihannya. Langkah ini membantu mencegah bakteri bertahan di lingkungan dan mengurangi risiko penularan penyakit pada petugas maupun masyarakat sekitar.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru