Bayi yang menghabiskan waktu sangat lama untuk menyusu, lalu tampak cepat kelelahan, perlu mendapat perhatian lebih. Pola ini dapat menjadi petunjuk awal penyakit jantung bawaan tipe tidak biru yang gejalanya sering tidak mudah terlihat.
Menyusu bukan aktivitas ringan bagi bayi karena membutuhkan koordinasi dan tenaga besar. Saat bayi tidak kuat menyelesaikan proses minum, asupan susunya dapat berkurang dan kenaikan berat badan berpotensi ikut terganggu.
Menyusu Bisa Menjadi Petunjuk Awal
Dokter jantung anak BraveHeart Brawijaya Hospital, dr Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp.Kardio(K), menjelaskan bahwa aktivitas minum susu dapat menjadi gambaran kondisi bayi. “Minum susu itu udah kayak lari,” ujarnya dalam tayangan detikSore.
Berbeda dengan anak yang lebih besar, bayi belum melakukan aktivitas fisik seperti berlari atau naik turun tangga. Karena itu, perubahan kemampuan menyusu dapat menjadi salah satu tanda yang lebih mudah diamati orang tua dalam keseharian.
Pada tipe tidak biru atau asianotik, bayi dapat menyusu dalam waktu yang jauh lebih lama dari biasanya. Bayi juga dapat cepat lelah, tidak mampu menghabiskan susu, atau mengalami penurunan jumlah minum.
Keluhan tersebut dapat muncul beriringan dengan berat badan yang sulit bertambah. Tanda ini tidak selalu berarti bayi pasti memiliki gangguan jantung, tetapi kombinasi perubahan pola minum dan pertumbuhan perlu dicermati.
Perbedaan Tipe Biru dan Tidak Biru
| Tipe Penyakit Jantung Bawaan | Tanda yang Dapat Terlihat | Dampak yang Disebutkan |
|---|---|---|
| Biru atau sianotik | Bibir dan mukosa lidah tampak kebiruan | Kadar oksigen darah rendah dan anak mudah lelah |
| Tidak biru atau asianotik | Menyusu sangat lama, cepat lelah, atau susu tidak habis | Berat badan sulit naik |
Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur jantung yang sudah terbentuk sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Menurut dr Anisa, sekitar 1 persen atau sekitar 50 ribu anak lahir dengan kondisi tersebut setiap tahun.
Secara umum, penyakit ini dibagi menjadi kelompok biru atau sianotik dan tidak biru atau asianotik. Perbedaannya dapat dikenali melalui tanda yang tampak secara fisik maupun perubahan kemampuan bayi saat minum susu.
Pada tipe biru, perubahan warna menjadi kebiruan merupakan petunjuk yang lebih mudah dikenali. Warna tersebut dapat terlihat pada bibir serta mukosa lidah ketika kadar oksigen dalam darah rendah.
Dr Anisa menyebut pemeriksaan saturasi oksigen dapat memberikan penilaian yang lebih objektif. Angka saturasi di bawah 95 persen disebut menunjukkan kondisi sianosis atau biru.
Pengaruh terhadap Tumbuh Kembang
Anak dengan tipe biru juga dapat lebih mudah lelah akibat kekurangan oksigen. Kondisi ini disebut dapat memengaruhi pertumbuhan berat badan, pertambahan tinggi badan, hingga perkembangan otak.
Sementara itu, tipe tidak biru dapat luput dikenali karena tidak selalu disertai perubahan warna pada bibir. Kebiasaan menyusu yang makin lama, bayi yang cepat lelah, serta berat badan yang sulit naik menjadi rangkaian tanda yang penting diperhatikan.
Pengenalan gejala sejak awal menjadi penting karena kondisi jantung bawaan berkaitan dengan kebutuhan oksigen dan pertumbuhan anak. Pada bayi yang belum mampu menunjukkan keluhan, aktivitas menyusu dapat menjadi sinyal awal yang terlihat dalam rutinitas sehari-hari.
