Petrokimia Gresik memasuki paruh pertama tahun ini dengan laju produksi yang lebih tinggi di tengah tekanan industri global. Hingga semester I 2026, perusahaan mencatat produksi pupuk 2,72 juta ton, naik dari 2,43 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan itu menambah pijakan perusahaan setelah sepanjang 2025 membukukan produksi 4,68 juta ton, atau sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan 2024. Di saat geopolitik, perubahan iklim, serta fluktuasi harga energi dan bahan baku masih menekan industri, perusahaan memilih memperkuat kapasitas, logistik, dan pasokan energi secara bersamaan.
Produksi yang naik di tengah tekanan
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menyebut capaian itu sebagai modal penting untuk ketahanan pangan nasional. Ia mengatakan perusahaan terus membangun fondasi agar mampu tumbuh berkelanjutan, lebih kompetitif, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi pertanian Indonesia.
“Di tengah dinamika geopolitik, perubahan iklim, serta fluktuasi harga energi dan bahan baku, Petrokimia Gresik terus memperkuat fondasi perusahaan agar mampu tumbuh secara berkelanjutan, meningkatkan daya saing, dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi pertanian Indonesia,” ujar Daconi kepada wartawan, Minggu (12/7/2026).
Untuk menjaga momentum itu, perusahaan mengubah Pabrik Fosfat I menjadi Pabrik Phonska V dengan teknologi Flex-Phos. Fasilitas ini dirancang agar bisa memproduksi beberapa jenis pupuk sesuai kebutuhan pasar.
| Langkah | Detail | Dampak |
|---|---|---|
| Pabrik Phonska V | Modifikasi dari Pabrik Fosfat I dengan teknologi Flex-Phos | Bisa memproduksi beberapa jenis pupuk |
| Tangki asam sulfat | 2 tangki baru dengan kapasitas total 40.000 ton | Kapasitas penyimpanan naik menjadi 100.000 ton |
| Dermaga A | Melayani kapal hingga 60.000 DWT | Kapasitas bongkar muat 4 juta ton per tahun |
| Pasokan gas | Kerja sama dari Lapangan MDA-MBH dan WK Ketapang | Tambahan suplai 30–35 MMSCFD hingga 2035 |
Penguatan dari pabrik sampai logistik
Petrokimia Gresik juga membangun dua tangki penyimpanan asam sulfat dengan kapasitas total 40.000 ton. Tambahan ini membuat kapasitas penyimpanan perusahaan meningkat menjadi 100.000 ton dan memperkuat rantai pasok bahan baku.
Di sisi logistik, perusahaan menyiapkan Dermaga A yang mampu melayani kapal hingga 60.000 DWT dengan kapasitas bongkar muat 4 juta ton per tahun. Infrastruktur ini disiapkan untuk memperlancar distribusi dan menjaga keandalan operasional.
Untuk energi, Petrokimia Gresik mengamankan suplai gas dari Lapangan MDA-MBH di Selat Madura dan Wilayah Kerja Ketapang di Perairan Utara Pulau Madura. Kerja sama itu diproyeksikan menambah pasokan 30–35 MMSCFD untuk menopang produksi hingga 2035.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas antara Petrokimia Gresik dan Husky-CNOOC Madura Limited untuk Lapangan MDA-MBH, serta Head of Agreement bersama PC Ketapang II Ltd untuk rencana kerja sama jual beli gas di Wilayah Kerja Ketapang.
Transformasi rendah emisi ikut dikejar
Di luar ekspansi fisik dan pengamanan bahan baku, Petrokimia Gresik juga mempercepat transformasi menuju industri rendah emisi. Perusahaan ditunjuk Kementerian Perindustrian sebagai proyek percontohan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization atau CCU dalam peta jalan dekarbonisasi 2025–2030.
Daconi menegaskan transformasi bukan hanya soal membesarkan skala usaha, tetapi juga membuat perusahaan lebih adaptif, efisien, dan tangguh menghadapi kebutuhan masa depan. Ia menilai penguatan produksi, kepastian bahan baku dan energi, serta teknologi berkelanjutan menjadi strategi utama untuk menjaga daya saing.
“Transformasi bagi kami bukan hanya tentang bagaimana perusahaan menjadi lebih besar, tetapi bagaimana Petrokimia Gresik semakin adaptif, efisien, dan tangguh dalam menjawab kebutuhan masa depan. Kami ingin terus memberikan manfaat yang semakin besar bagi pertanian Indonesia,” kata Daconi.
Petrokimia Gresik menilai sinergi dengan sektor energi menjadi fondasi penting bagi ketahanan industri nasional. Perusahaan menyebut kolaborasi lintas sektor akan terus dijaga agar produksi pupuk nasional tetap stabil di tengah dinamika industri global.
