Sebuah peta dunia berusia sekitar 440 tahun kembali mengangkat perdebatan lama soal lokasi Bahtera Nuh. Ilustrasi kapal di dalamnya dianggap sebagian peneliti berada di titik yang sama dengan situs yang sejak lama dicari di Turki timur.
Peta itu adalah Planisphere karya kartografer Italia Urbano Monte yang dibuat pada 1587. Karya besar ini terdiri dari 60 lembar gambar tangan dan jika disusun membentuk lingkaran berdiameter sekitar tiga meter.
Kapal di Pegunungan Ararat
Perhatian publik tertuju pada gambar kapal yang ditempatkan di kawasan Pegunungan Ararat, wilayah Turki modern. Dalam Kitab Kejadian, Bahtera Nuh disebut berlabuh di “pegunungan Ararat” setelah banjir besar selama 150 hari.
Peneliti independen Jimmy Corsetti menilai posisi kapal pada peta itu bertepatan dengan Formasi Durupinar. Struktur berbentuk kapal di Turki timur itu sudah lama masuk dalam daftar lokasi yang dikaitkan dengan pencarian Bahtera Nuh.
| Fakta Utama | Detail |
|---|---|
| Peta | Planisphere karya Urbano Monte |
| Tahun dibuat | 1587 |
| Susunan | 60 lembar gambar tangan |
| Ukuran saat dirangkai | Lingkaran berdiameter sekitar 3 meter |
| Lokasi yang disorot | Pegunungan Ararat dan Formasi Durupinar |
Dalam unggahan di media sosial X, Jimmy Corsetti menulis, “Lokasinya sama dengan Situs Durupinar, begitu juga panjangnya.” Pernyataan itu membuat peta kuno tersebut ikut dibaca sebagai petunjuk baru, meski belum dianggap sebagai bukti final.
Formasi Durupinar Masih Diperdebatkan
Formasi Durupinar adalah struktur geologi sepanjang sekitar 164 meter yang ditemukan pada 1959 dekat Gunung Ararat. Bentuknya menyerupai kapal, sehingga menarik perhatian kelompok yang meyakini lokasi itu sebagai sisa Bahtera Nuh.
Tim Noah’s Ark Scans juga melakukan survei dengan ground-penetrating radar di lokasi itu. Mereka mengklaim menemukan pola lorong dan rongga di bawah permukaan yang dianggap menyerupai struktur kapal bertingkat sebagaimana digambarkan dalam Alkitab.
Andrew Jones dari Noah’s Ark Scans mengatakan hasil pemindaian menunjukkan adanya struktur yang layak diteliti lebih lanjut. “Yang menarik, rongga-rongga ini tampak tersusun di bawah permukaan dan bukan sekadar acak,” kata Jones.
Belum Ada Bukti yang Diterima Luas
Meski temuan dan klaim itu kembali menarik perhatian publik, para ilmuwan mengingatkan bahwa hingga kini belum ada bukti arkeologis yang membuktikan Bahtera Nuh pernah ditemukan. Sejumlah ahli geologi yang lebih dulu meneliti Formasi Durupinar menyimpulkan struktur itu merupakan formasi geologi alami, bukan sisa kapal purba.
Lokasi tersebut tetap menjadi objek penelitian dan spekulasi, tetapi belum menghasilkan bukti yang diterima secara luas oleh komunitas ilmiah. Ilustrasi kapal pada peta abad ke-16 itu juga tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti lokasi Bahtera Nuh.
Pada masa itu, kartografer kerap memasukkan unsur sejarah, kepercayaan, dan mitologi ke dalam karya mereka selain informasi geografis. Karena itu, kemunculan kembali Planisphere karya Urbano Monte lebih menunjukkan bahwa kisah Bahtera Nuh masih terus memicu rasa ingin tahu dan perdebatan yang belum selesai.
