Kecerdasan buatan kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap teknologi, melainkan faktor yang ikut menentukan arah pertumbuhan ekonomi. Di tengah perubahan itu, keunggulan lama seperti tenaga kerja murah dan bonus demografi mulai kehilangan daya tariknya.
Pergeseran ini membuat cara negara bersaing ikut berubah. Negara yang mampu membangun kapabilitas AI, infrastruktur, dan ekosistem dalam skala besar dinilai akan lebih unggul dibanding negara yang hanya bertumpu pada biaya produksi rendah.
AI Mengubah Ukuran Daya Saing
Tomoo Sato, penulis laporan How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI, menyebut peta persaingan ekonomi sedang ditulis ulang oleh AI. Menurut dia, negara unggul bukan lagi yang menawarkan jumlah tenaga kerja terbesar atau biaya produksi terendah.
Ia menegaskan bahwa AI bukan hanya menghadirkan gelombang inovasi baru, tetapi juga mengubah banyak asumsi pembangunan ekonomi yang selama dua dekade terakhir kerap dijadikan pegangan. Laporan itu menempatkan daya komputasi sebagai aset strategis nasional.
| Faktor Kunci | Peran dalam Ekonomi AI | Dampak |
|---|---|---|
| Semikonduktor | Fondasi perangkat dan komputasi | Menentukan kapasitas ekonomi AI |
| Komputasi awan | Infrastruktur pemrosesan skala besar | Mendukung pengembangan dan layanan AI |
| Pasokan energi | Penopang operasi pusat data dan komputasi | Menguatkan daya saing nasional |
| Talenta AI | Kemampuan membangun dan mengintegrasikan teknologi | Menentukan partisipasi dalam rantai nilai AI |
Potensi Nilai Ekonomi yang Makin Besar
Laporan tersebut memperkirakan ekonomi AI generatif dapat menyumbang antara US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun per tahun terhadap perekonomian global. Pada saat yang sama, investasi global pada infrastruktur AI terus meningkat karena teknologi ini makin dianggap sebagai aset strategis.
Arus investasi itu juga ikut menggeser peta perdagangan global. Negara yang menguasai infrastruktur data, pasokan listrik, semikonduktor, dan talenta digital diperkirakan memperoleh porsi nilai ekonomi yang lebih besar dibanding negara yang hanya mengandalkan keunggulan biaya produksi.
Perkembangan AI juga meluas dari aplikasi berbasis teks ke penglihatan komputer, robotika, dan dunia fisik. Perluasan ini meningkatkan kebutuhan atas perangkat keras, energi, data, dan kemampuan integrasi teknologi di banyak sektor.
Indonesia Didorong Membangun Fondasi Baru
Bagi Indonesia, perubahan ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Model pembangunan yang selama ini bertumpu pada bonus demografi dan tenaga kerja berlimpah dinilai tidak lagi cukup ketika AI dan otomatisasi mulai mengurangi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.
Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, menilai Indonesia tetap punya peluang besar untuk masuk ke ekonomi AI. Syaratnya adalah penguatan kualitas sumber daya manusia, ekosistem inovasi, dan infrastruktur digital.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha menjadi faktor penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai AI,” ujarnya.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa daya saing ekonomi kini tidak lagi ditentukan oleh murahnya tenaga kerja semata. Negara yang paling siap membangun fondasi AI berpotensi merebut nilai tambah yang lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi berikutnya.
