Pertumbuhan Ekonomi Naik, Dunia Usaha Justru Masih Terjepit Biaya dan Rupiah Lemah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% secara tahunan pada triwulan I 2026 belum sepenuhnya mengalir ke dunia usaha. Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menilai angka itu menunjukkan ekonomi masih bergerak, tetapi manfaatnya belum terasa merata di seluruh pelaku bisnis.

Kondisi itu terlihat dari banyak perusahaan yang masih menanggung kenaikan biaya di tengah ketahanan domestik yang dinilai masih cukup kuat. Shinta menyebut situasi ini sebagai asymmetric impact of growth, ketika pertumbuhan ada tetapi dampaknya belum seimbang ke aktivitas bisnis riil.

Biaya produksi masih menjadi beban utama

Salah satu tekanan terbesar datang dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Rupiah yang sempat berada di kisaran Rp 16.800 per dolar AS pada awal tahun lalu mendekati Rp 17.400 per dolar AS pada akhir triwulan I 2026.

Pergerakan itu membuat biaya produksi naik, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Apindo menilai pelemahan rupiah ikut menekan keuntungan dan dalam sejumlah kasus membatasi ruang ekspansi perusahaan.

Pertumbuhan terkonsentrasi di sektor konsumsi

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi paling kuat justru datang dari sektor yang terkait langsung dengan konsumsi domestik. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14%, transportasi dan pergudangan naik 8,04%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial meningkat 7,62%, sedangkan perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,26%.

Shinta menyebut sektor-sektor itu menikmati demand-driven expansion karena lonjakan mobilitas dan konsumsi masyarakat selama periode libur panjang. Artinya, mesin pertumbuhan memang bekerja, tetapi dorongannya lebih banyak terkonsentrasi pada sektor yang sensitif terhadap belanja harian masyarakat.

Manufaktur belum ikut terdorong

Kontras terlihat di sektor manufaktur yang justru terkontraksi 1,01%. Padahal, sektor ini selama ini menjadi salah satu penopang utama industri nasional dan penyerap tenaga kerja yang besar.

Apindo menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa PDB yang tampak solid belum otomatis memperkuat kinerja bisnis di lapangan. Banyak pelaku usaha, terutama di level mikro, masih menghadapi penyusutan margin keuntungan atau margin compression.

Tekanan itu menjadi lebih berat karena biaya bahan baku, logistik, dan kebutuhan operasional lain belum mereda. Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan yang tercatat di atas kertas belum tentu langsung berubah menjadi ruang napas yang lebih longgar bagi perusahaan.

Daya saing industri jadi sorotan

Atas kondisi tersebut, Apindo meminta pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan langkah yang lebih konsisten. Fokus yang didorong mencakup stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan kebijakan yang bisa meningkatkan daya saing industri nasional.

Shinta menegaskan momentum pertumbuhan 5,61% perlu dijaga, terutama untuk sektor manufaktur dan industri padat karya yang menghadapi tekanan paling berat. Di tengah pertumbuhan yang belum merata, arah kebijakan dinilai penting agar pelemahan di sektor produksi tidak berlanjut dan manfaat ekonomi bisa lebih luas dirasakan dunia usaha.

Bagi pelaku usaha, tantangan terbesar saat ini bukan hanya memastikan penjualan tetap bergerak, tetapi juga menjaga agar biaya tidak terus menggerus margin. Selama rupiah masih lemah dan tekanan input belum turun, pertumbuhan ekonomi akan tetap terasa lebih kuat di sektor konsumsi dibandingkan di pabrik dan lini produksi.

Source: www.beritasatu.com

Terkait