Harga Pertamax berpotensi kembali turun pada bulan depan seiring melemahnya harga minyak dunia. Sinyal ini penting bagi pengguna BBM nonsubsidi karena harga Pertamax sangat dipengaruhi pergerakan minyak global.
Pertamina Patra Niaga menyebut harga Jenis Bahan Bakar Umum, termasuk Pertamax Series, untuk bulan depan akan mengikuti dinamika harga minyak dunia dengan acuan harga satu bulan sebelumnya. Jika tren pelemahan berlanjut, ruang penyesuaian harga ke bawah masih terbuka.
Tekanan dari pasar minyak global
Koreksi harga minyak dunia menjadi faktor utama yang mendorong prospek penurunan itu. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lalu turun ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah muncul kerangka damai atas konflik AS-Iran yang sebelumnya direncanakan ditandatangani di Swiss.
Meski penyelesaian konflik tersebut belum tuntas, pasar tetap merespons sinyal deeskalasi. Situasi geopolitik yang sedikit mereda ikut menekan harga minyak mentah utama dunia dan berdampak pada prospek BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Harga Pertamax mengikuti acuan bulan sebelumnya
Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, menyampaikan bahwa evaluasi harga dilakukan berdasarkan pergerakan harga pada bulan sebelumnya. Artinya, penyesuaian harga Pertamax ke bawah masih mungkin terjadi jika harga minyak mentah terus melandai.
Sebagai BBM nonsubsidi, Pertamax tidak dipatok seperti BBM bersubsidi. Karena itu, setiap kenaikan atau penurunan harga minyak global bisa langsung memengaruhi ruang penetapan harga di tingkat konsumen.
Dalam kondisi harga minyak naik, Pertamax cenderung ikut terdorong naik. Sebaliknya, saat harga minyak mentah dunia turun, harga Pertamax juga berpotensi ikut melandai pada periode penyesuaian berikutnya.
ICP ikut memperkuat sinyal pelemahan
Selain Brent, acuan lain yang ikut diperhatikan adalah Indonesian Crude Price atau ICP. Harga rata-rata minyak mentah Indonesia pada Mei tercatat sebesar 106,56 dolar AS per barel, lebih rendah dibandingkan ICP April yang berada di level 117,31 dolar AS per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut penurunan ICP Mei sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah utama dunia, khususnya Dated Brent. Salah satu pemicunya adalah meredanya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Perkembangan itu penting karena pasar minyak sangat sensitif terhadap konflik di kawasan Timur Tengah. Saat risiko pasokan dinilai menurun, harga minyak biasanya terkoreksi karena kekhawatiran gangguan distribusi berkurang.
Proyeksi bertahap hingga Desember 2026
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, memproyeksikan harga Pertamax turun bertahap hingga akhir 2026. Menurut proyeksinya, harga Pertamax bergerak dari Rp16.250 per liter pada Juni menuju kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026.
Yayan menilai peluang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka, dengan penurunan yang lebih dulu terlihat pada Dexlite dan Pertamina Dex. Untuk Juli 2026, ia memperkirakan Pertamax turun ke Rp15.228 per liter.
Setelah itu, harga diproyeksikan menjadi Rp14.557 per liter pada Agustus dan Rp14.112 per liter pada September. Tren penurunan diperkirakan berlanjut ke Rp13.814 per liter pada Oktober, lalu Rp13.614 per liter pada November dan Rp13.479 per liter pada Desember.
Rangkaian proyeksi tersebut menunjukkan pola penurunan bertahap, bukan sekaligus dalam satu waktu. Karena itu, arah harga Pertamax bulan depan akan menjadi indikator awal apakah tren pelemahan benar-benar berlanjut sampai penghujung 2026.
Source: otodriver.com






