
Harga Pertalite tetap bertahan di Rp10.000 per liter, tetapi angka di struk pembelian menunjukkan nilai keekonomiannya sudah menembus Rp16.088 per liter. Selisih besar itu menjadi sorotan karena beban perbedaan harga masih ditanggung pemerintah melalui subsidi.
Pertamina Patra Niaga memastikan harga jual resmi Pertalite belum berubah hingga Kamis (7/5/2026). Di sisi lain, konsumen tetap membayar harga lama, sementara selisih dengan harga pasar muncul jelas dalam bukti transaksi di SPBU.
Selisih harga terlihat langsung di struk
Sorotan publik menguat setelah beredar video di Instagram @cobisnis yang memperlihatkan struk pembelian Pertalite di SPBU Tol Jakarta-Merak. Dalam dokumen itu, tertulis subsidi pemerintah sebesar Rp6.088 per liter.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut struk pembelian bisa menjadi alat untuk melihat langsung besarnya selisih harga tersebut. Ia menegaskan cara itu juga dipakai untuk menunjukkan transparansi atas beban subsidi yang ditanggung negara.
“Coba beli Pertalite di SPBU, di struk pembelian sudah dituliskan berapa harga Pertalite,” ucap Roberth MV Dumatubun kepada KONTAN.
Pemerintah masih menutup selisih harga
Roberth menjelaskan bahwa selisih antara harga keekonomian atau harga pasar dengan harga jual di SPBU masih ditanggung sementara oleh pemerintah. Kebijakan itu disebut ditahan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah fluktuasi harga energi global.
Ia juga menyebut langkah tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah ingin memastikan roda ekonomi tetap bergerak di berbagai lapisan masyarakat.
“Hal ini untuk tetap menjaga daya beli dan tetap berputarnya roda ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pertamax ikut dibandingkan
Di tengah perhatian pada Pertalite, harga Pertamax juga ikut menjadi bahan perbandingan karena berada di level Rp12.300 per liter. Angka itu bahkan terlihat lebih rendah dibanding harga asli Pertalite yang tercetak di struk pembelian.
Roberth menegaskan harga Pertamax tersebut bukan harga keekonomian yang mengikuti pasar riil. Menurut dia, harga itu adalah hasil koordinasi antara pemerintah dan Pertamina, dan sejak 1 April tidak dilakukan penyesuaian.
“Melainkan adalah harga terakhir yang berdasarkan kebijakan dan kordinasi pemerintah dengan Pertamina. Maka per 1 April, harga Pertamax tersebut tidak dilakukan penyesuaian harga dan masih tetap menggunakan harga Rp12.300 per liter,” ujar Roberth kepada Kompas.com.
Harga produk non-subsidi lain dinilai tipis beda
Pertamina tidak merinci secara spesifik harga asli Pertamax. Namun, Roberth memberi gambaran bahwa produk non-subsidi lain seperti Pertamax Green dan Pertamax Turbo memiliki selisih harga yang relatif tipis.
Ia menyebut perbedaan itu wajar karena masing-masing produk punya nilai oktan berbeda. “Yang pasti (harga Pertamax) di atas itu. Logikanya begini, Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, itu kan RON 92, 95, 98, yaa tipis-tipis lah beda harganya,” katanya.
Pertalite tetap dijaga terjangkau
Kepastian harga Pertalite di Rp10.000 per liter menegaskan bahwa BBM bersubsidi itu masih dijaga agar tetap terjangkau bagi konsumen. Di saat yang sama, angka Rp16.088 per liter di struk pembelian memperlihatkan besarnya dukungan negara yang masih menahan harga jual di SPBU.





