Fitch Ratings Indonesia menaikkan peringkat jangka panjang nasional Bank Jambi dan Bank Kalteng menjadi A+(idn) dari sebelumnya A(idn). Kenaikan ini ditopang bantalan modal yang sangat tebal, dengan rasio CET1 masing-masing telah berada di atas 43%.
Prospek kedua bank pembangunan daerah tersebut ditetapkan stabil. Penilaian itu menunjukkan Fitch melihat profil kredit Bank Jambi dan Bank Kalteng menguat dibandingkan bank domestik lain yang memiliki ukuran serupa.
Modal Kuat Menjadi Penopang Utama
Permodalan menjadi salah satu pembeda utama kedua bank ini. Rasio Common Equity Tier 1 atau CET1 Bank Jambi mencapai 43,6% pada akhir Maret 2026, jauh di atas rata-rata bank pembangunan daerah yang sebesar 24,7%.
Bank Kalteng juga mencatat posisi modal yang besar dengan CET1 43,2% pada akhir 2025. Angka tersebut meningkat dari 41,7% pada tahun sebelumnya dan dinilai tetap kuat dalam dua tahun mendatang berkat pembentukan modal secara internal.
| Indikator | Bank Jambi | Bank Kalteng |
|---|---|---|
| Peringkat nasional jangka panjang | A+(idn) | A+(idn) |
| NPL | 2,5% per akhir kuartal I-2026 | 2,5% per akhir 2025 |
| CET1 | 43,6% per akhir Maret 2026 | 43,2% per akhir 2025 |
| OP-RWA | Diproyeksikan di atas 6% mulai 2027 | 5,5% per akhir 2025 |
Kualitas Kredit Tetap Terjaga
Fitch menilai kualitas aset kedua bank masih lebih baik daripada kelompok bank sejenis. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan Bank Jambi berada di level 2,5% pada akhir kuartal I-2026, lebih rendah dibandingkan rata-rata BPD sebesar 3,2%.
Bank Jambi mengandalkan penyaluran kredit kepada aparatur sipil negara dan pelaku usaha lokal di Provinsi Jambi. Fokus tersebut membantu menjaga kualitas aset serta menopang profitabilitas di atas rata-rata, meski bisnisnya masih terkonsentrasi pada wilayah dan segmen nasabah tertentu.
Di Bank Kalteng, NPL juga tercatat 2,5% pada akhir 2025. Rasio loan at risk atau LAR berada di 5,3%, yang disebut sebagai level terendah di antara kelompok bank sejenis.
Fitch memperkirakan NPL Bank Kalteng hanya meningkat tipis sepanjang 2026. Biaya kredit diproyeksikan tetap terkendali, sejalan dengan fokus pembiayaan bank kepada pegawai negeri sipil dan usaha kecil di Kalimantan Tengah.
Profitabilitas Tetap Menjadi Perhatian
Profitabilitas Bank Kalteng menunjukkan perbaikan dengan rasio laba operasi terhadap aset tertimbang menurut risiko atau OP-RWA mencapai 5,5% pada akhir 2025. Posisi itu naik dari 5,2% pada tahun sebelumnya, didukung pertumbuhan kredit konsumer serta imbal hasil investasi surat berharga pemerintah yang lebih tinggi.
Untuk Bank Jambi, Fitch memperkirakan insiden siber sebelumnya dapat menekan rasio OP-RWA sekitar 1,7 poin persentase pada 2026. Meski demikian, profitabilitas inti bank diproyeksikan pulih dan kembali berada di atas 6% mulai 2027.
Kenaikan peringkat belum otomatis membuka ruang peningkatan lanjutan dalam waktu dekat. Fitch masih melihat skala usaha Bank Jambi dan Bank Kalteng relatif kecil, sementara konsentrasi bisnis di daerah dan segmen tertentu menjadi faktor pembatas.
Peningkatan berikutnya dapat terjadi apabila kedua bank mampu memperluas skala usaha serta mendiversifikasi bisnis tanpa menurunkan kualitas aset dan profitabilitas. Sebaliknya, tekanan terhadap peringkat dapat muncul jika NPL meningkat berkelanjutan di atas 3% dan OP-RWA turun menjadi 3% atau lebih rendah.
Source: finansial.bisnis.com






