Tanpa Insentif, Penjualan Motor Listrik Alva Justru Naik 52 Persen

Author: Cung Media

Penjualan motor listrik Alva tetap melaju meski insentif pembelian dari pemerintah sudah berhenti sejak akhir 2024. Bagi PT Ilectra Motor Group, kondisi ini menunjukkan pasar mulai bergerak karena kebutuhan nyata, bukan sekadar karena subsidi.

Pertumbuhan itu juga datang di saat banyak pelaku industri masih menunggu dukungan fiskal baru. Alva justru mencatat kenaikan yang membuat performanya menarik untuk dibaca sebagai tanda perubahan perilaku konsumen motor listrik.

Penjualan naik 52 persen

Chief Marketing Officer Alva, Putu Swaditya Yudha, mengatakan penjualan perusahaan tumbuh 52 persen dari 2024 ke 2025. Angkanya naik dari hampir 3.000 unit menjadi 4.500 unit.

Menurut Putu Swaditya Yudha, yang akrab disapa Adit, permintaan pada 2026 juga masih bergerak naik. Ia memberi sinyal bahwa volume tahun ini bisa melampaui capaian 2025, meski detail penjualannya belum dibuka.

Lonjakan ini terasa menonjol karena terjadi tanpa bantuan insentif pembelian motor listrik dari pemerintah. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa minat konsumen tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dorongan subsidi.

Pengalaman pengguna ikut mendorong pasar

Alva menilai pengalaman langsung para pemilik motor listrik menjadi salah satu motor utama adopsi. Konsumen yang sudah memakai kendaraan listrik disebut mulai merasakan manfaatnya untuk mobilitas harian.

Dari sana, rekomendasi dari mulut ke mulut ikut bekerja dan membentuk kesadaran baru di pasar. Bagi Alva, cara ini mulai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan promosi merek.

Perubahan perilaku itu juga menunjukkan bahwa edukasi pasar kendaraan listrik roda dua kini datang dari penggunaan nyata. Calon pembeli tampaknya semakin mudah yakin ketika melihat pengalaman langsung dari pengguna lain.

Regulasi non-fiskal masih dibutuhkan

Meski penjualan tumbuh tanpa insentif, Alva tetap melihat ruang besar untuk dukungan lain dari pemerintah. Perusahaan menilai kebijakan non-fiskal bisa membantu mempercepat perkembangan ekosistem kendaraan listrik.

Adit mengatakan pemerintah tentu punya pertimbangan besar saat menyusun program insentif karena terkait anggaran negara. Namun, ia menilai kemudahan regulasi juga bisa memberi dampak penting bagi industri.

Salah satu area yang disorot adalah pembangunan jaringan stasiun pengisian daya. Regulasi yang lebih ramah dinilai dapat mempermudah merek untuk berinvestasi di bisnis charging station.

Alva juga menekankan pentingnya fasilitas pengisian daya di ruang publik. Perkantoran dan pusat perbelanjaan disebut bisa menjadi titik strategis untuk meningkatkan kenyamanan pengguna motor listrik.

Alva N3 masih jadi penopang utama

Dari seluruh lini produknya, Alva N3 menjadi model dengan kontribusi penjualan terbesar. Setelah itu, posisi berikutnya ditempati Alva One dan Alva Cervo.

Komposisi produk tersebut membantu Alva menjangkau kebutuhan konsumen yang makin beragam. Kebutuhan itu mencakup mobilitas harian di kota hingga penggunaan untuk jarak menengah.

Di sisi infrastruktur, Alva juga memperluas jaringan pengisian daya di berbagai daerah. Saat ini, perusahaan memiliki 355 konektor pengisian daya yang tersebar di 170 lokasi di Indonesia.

Perluasan itu ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan dan rasa aman pengguna saat memakai motor listrik dalam aktivitas sehari-hari. Dengan penjualan yang masih bertumbuh dan jaringan pengisian yang terus dibangun, pasar motor listrik Indonesia masih dinilai menyimpan potensi besar.

Source: www.liputan6.com
Terbaru