Pembeli Menahan Diri, Premi Minyak Fisik Anjlok Meski Selat Hormuz Masih Terganggu

Pembeli minyak global sedang menahan diri justru saat jalur pengiriman di Selat Hormuz masih terganggu konflik. Sikap hati-hati itu membuat harga kargo minyak fisik dunia anjlok tajam, karena pasar memilih menunggu kepastian politik ketimbang buru-buru mengunci pembelian.

Pelemahan ini sudah terlihat sejak paruh kedua April dan makin kuat dalam sepekan terakhir. Premi untuk grade minyak Laut Utara yang menjadi acuan Dated Brent turun hingga 90 persen dalam sebulan dan kembali ke level sebelum perang pecah.

Pembeli menunggu sinyal politik

Pedagang menilai kehati-hatian pembeli dipicu sinyal kedekatan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar khawatir membayar terlalu mahal jika Selat Hormuz tiba-tiba dibuka kembali dan harga langsung jatuh.

Tekanan itu sudah merambat ke pasar spot. Kargo minyak mentah CPC dari Afrika Barat dan Mediterania untuk pengiriman segera bahkan diperdagangkan dengan diskon kecil terhadap nilai patokan, meski pasokan secara umum masih dianggap ketat.

Harga fisik kembali ke level normal

Harga saat ini juga sudah kembali ke kisaran normal sebelum perang Iran menghilangkan lebih dari 10 persen pasokan minyak global. Kondisi itu menunjukkan ketegangan geopolitik belum lagi mendorong pasar fisik ke level premium setinggi sebelumnya.

Neil Crosby, kepala riset di Sparta Commodities SA, menilai pasar minyak fisik belum sepenuhnya memasukkan ketatnya pasokan yang parah. Ia juga menyoroti pembeli di Asia yang bergantung pada impor dan memilih bertahan dengan pasokan minyak mentah minimal.

Kilang menekan stok

Di sisi hilir, kilang minyak mulai menyesuaikan diri dengan keterbatasan pasokan dari Timur Tengah. Mereka menerapkan pengiriman tepat waktu atau just-in-time dan menekan persediaan agar tetap efisien.

Strategi itu ikut membentuk permintaan fisik yang lebih hati-hati di pasar internasional. Saat pembeli memilih stok minimal, tekanan untuk mengejar kargo mahal ikut berkurang.

Dukungan dari cadangan dan ekspor baru

Pasar global saat ini juga ditopang pelepasan cadangan strategis dalam jumlah rekor oleh pemerintah. Langkah itu membantu meredam dampak penutupan jalur laut utama saat pasokan dari Timur Tengah terganggu.

Di saat yang sama, peningkatan ekspor dari Amerika Serikat dan Brasil ikut membantu menyeimbangkan pasar sementara konsumsi global menurun. Penurunan konsumsi itu terjadi ketika harga bahan bakar melonjak dan menekan minat beli di banyak negara.

Meski begitu, pasar berjangka masih menunjukkan gejolak yang berbeda arah dari pasar fisik. Harga Brent berjangka sempat melonjak di atas US$105 per barel pada Senin setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik.

Terkait