Pasar Seni Indonesia Tak Mudah Tumbang, Nilai Budaya Justru Jadi Penyangga di Tengah Krisis

Pasar seni Indonesia masih bergerak di tengah tekanan ekonomi yang lebih luas, meski ketidakpastian global menekan pasar saham dan rupiah sempat melemah. Di tengah situasi itu, bursa seni di dalam negeri tetap punya daya tarik bagi seniman, galeri, kolektor, dan pengunjung.

Namun, daya tahan pasar seni tidak lahir dari transaksi semata. Ekosistem ini masih bertahan karena ditopang nilai budaya, relasi personal, dan minat koleksi yang tidak selalu bermotif finansial.

Minat kolektor belum hilang, hanya lebih selektif

Kurator sekaligus pengajar seni rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, menilai pasar seni nasional memang punya kerentanan khas. Ketergantungannya pada jaringan kolektor tertentu dan likuiditas kelompok ekonomi atas membuat pasar ini tetap rentan saat ekonomi terguncang.

Meski begitu, penurunan minat tidak terjadi secara otomatis. Sebagian kolektor masih datang ke art fair dan bursa seni, tetapi mereka kini lebih berhati-hati saat membeli karya bernilai tinggi.

Sikap selektif itu juga terlihat pada karya yang terlalu bergantung pada tren sesaat atau hype pasar. Di saat yang sama, seni mulai dipandang sebagai aset alternatif oleh generasi kolektor baru yang ingin melakukan diversifikasi di luar properti, saham, dan instrumen finansial lain.

“Motivasi beberapa kolektor Indonesia sering kali masih bercampur antara investasi, prestise sosial, kedekatan personal dengan seniman, hingga patronase budaya,” kata Mikke.

Pasar yang menyaring, bukan sekadar melambat

Tekanan ekonomi biasanya memicu proses seleksi alami di pasar seni. Karya yang sebelumnya terdorong tren cenderung melemah, sedangkan seniman dengan reputasi historis, praktik berkarya yang konsisten, dan legitimasi institusional cenderung lebih tahan.

Pergeseran perilaku ini juga tampak lebih jelas setelah Pandemi Covid-19. Kolektor tidak lagi hanya menilai karya dari sisi visual atau dekoratif, tetapi juga memperhatikan arsip, provenance, narasi kuratorial, dan posisi historis karya dalam perkembangan seni rupa.

Pola ini menunjukkan bahwa pasar seni Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga bergerak menuju konsumsi yang lebih matang. Pembelian karya semakin sering dipertimbangkan lewat nilai jangka panjang, bukan sekadar dorongan pasar yang cepat naik dan cepat turun.

Ukuran sehat tidak hanya soal harga

Mikke menegaskan bahwa pasar seni yang sehat tidak bisa diukur hanya dari harga tinggi atau ramainya transaksi lelang. Ukuran yang lebih penting adalah terbentuknya ekosistem yang kuat, berlapis, dan berkelanjutan.

Ekosistem itu mencakup pendidikan seni, studio seniman, galeri, museum, kurator, kritik seni, media, kolektor, rumah lelang, hingga lembaga arsip dan konservasi. Jika semua unsur itu saling menopang, pasar seni memiliki fondasi yang lebih kuat menghadapi dinamika ekonomi dan perubahan tren global.

Pasar seni juga dianggap sehat ketika lapisan kolektornya beragam. Ketergantungan pada elite atau oligark membuat pasar lebih rapuh, sementara keberagaman kolektor membantu seni tumbuh sebagai bagian dari budaya publik dan ruang apresiasi bersama.

Ada pula syarat lain yang tidak kalah penting, yakni transparansi harga, perlindungan hak cipta, regulasi autentikasi karya, dan sistem dokumentasi yang baik. Tanpa fondasi itu, pasar lebih mudah terganggu oleh manipulasi dan pemalsuan.

Negara tetap dibutuhkan di luar logika jual beli

Dalam pandangan Mikke, kehadiran negara tetap diperlukan agar pasar seni tidak sepenuhnya mengikuti logika komersial. Dukungan bisa hadir lewat kebijakan budaya, penguatan museum publik, program hibah seni, dan diplomasi budaya internasional.

Peran ini penting karena perkembangan seni tidak selalu lahir dari karya yang cepat laku. Ruang untuk eksperimen artistik dan praktik nonkomersial tetap dibutuhkan agar ekosistem seni tidak kehilangan daya hidup dan keberagamannya.

Karena itu, pertanyaan apakah pasar seni Indonesia bertahan atau melambat tidak memiliki jawaban tunggal. Aktivitasnya masih berjalan dan minat kolektor tetap ada, tetapi kualitas pertumbuhannya akan sangat ditentukan oleh transparansi, regenerasi kolektor, dokumentasi yang kuat, dan kemampuan ekosistem seni menjaga nilai budaya di tengah tekanan ekonomi yang belum reda.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait