
Paraguay kembali menunjukkan bahwa hubungannya dengan Taiwan bukan sekadar simbol diplomatik. Di Taipei, Presiden Santiago Pena menegaskan aliansi kedua negara dibangun di atas kebebasan, sementara Beijing di saat yang sama mendesak Asuncion memutus hubungan dengan pulau yang diklaim China itu.
Pernyataan dua arah ini menyoroti betapa sensitifnya posisi Paraguay dalam perebutan pengaruh antara Beijing dan Taipei. Negara Amerika Selatan itu kini menjadi sekutu diplomatik terakhir Taiwan di kawasan Amerika Selatan, sehingga setiap langkah politik dari Asuncion ikut dibaca sebagai pesan strategis.
Pesan politik dari Taipei
Dalam kunjungan keduanya sebagai presiden ke Taiwan, Pena berbicara di hadapan mahasiswa universitas di Taipei setelah menerima gelar doktor kehormatan. Ia menyebut hubungan Paraguay dan Taiwan berdiri di atas kebebasan, demokrasi, kepercayaan pada institusi, dan martabat kerja keras.
Pena juga menegaskan bahwa hubungan bilateral itu melampaui formalitas diplomatik. Menurut dia, relasi tersebut tercermin dalam tindakan nyata, pencapaian konkret, dan peluang bagi kedua negara.
Wakil Presiden Taiwan Hsiao Bi-khim hadir dalam acara yang sama. Ia mengatakan pernah bertemu Pena di Washington sebelum ia terpilih sebagai presiden dan terkesan oleh semangatnya untuk melayani rakyat Paraguay.
Beijing menaikkan tekanan
Di Beijing pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian meminta Paraguay “berdiri di sisi sejarah yang benar” dan memutus “hubungan diplomatik yang disebut-sebut” dengan otoritas Taiwan. Ia menegaskan bahwa prinsip “Satu China” adalah norma fundamental hubungan internasional dan konsensus umum komunitas internasional.
China tidak mengakui Taiwan sebagai entitas terpisah dan menyebut pulau itu sebagai salah satu provinsinya. Pandangan itu ditolak oleh Presiden Taiwan Lai Ching-te dan pemerintahannya.
Tekanan Beijing terhadap Paraguay berlangsung di tengah upaya berkelanjutan untuk menarik Asuncion menjauh dari dukungannya yang sudah lama kepada Taiwan. Kunjungan Pena ke Taipei pun menjadi sorotan karena memperlihatkan bahwa Paraguay belum bergeser dari posisi lama tersebut.
Sekutu terakhir Taiwan di Amerika Selatan
Hubungan diplomatik Paraguay dan Taiwan terjalin pada 1957, pada masa awal pemerintahan diktator Paraguay Alfredo Stroessner yang dikenal keras menentang komunisme. Jejak sejarah itu ikut menjelaskan mengapa Asuncion masih mempertahankan ikatan resmi dengan Taipei hingga sekarang.
Pena sendiri tidak menyinggung China dalam pernyataan publiknya di Taipei. Hsiao juga tidak menyebut Beijing dalam sambutannya, meski tekanan China terhadap Paraguay terus meningkat di belakang layar.
Dimensi geopolitik yang lebih luas
Posisi Paraguay menjadi makin menarik karena negara itu juga punya hubungan baik dengan Amerika Serikat. Pada Februari lalu, Pena berkunjung ke Washington untuk forum perdamaian baru yang digelar Presiden AS Donald Trump, dan Trump menyebutnya sebagai “young, handsome guy”.
Kombinasi antara dukungan lama kepada Taiwan, tekanan dari China, dan kedekatan dengan Washington membuat Paraguay berada di titik yang rumit. Di satu sisi, Asuncion mempertahankan ikatan politik yang sudah berjalan puluhan tahun; di sisi lain, Beijing terus berusaha mengubah arah kebijakan negara itu lewat tekanan diplomatik yang makin terbuka.





