Pangeran I An di drakor Perfect Crown memilih jalan yang jarang diambil tokoh pewaris takhta. Setelah naik menjadi raja, ia justru menghapus sistem monarki yang selama ini menjadi dasar kerajaan.
Keputusan itu menarik perhatian karena ia tidak menggunakan takhta untuk memperkuat kuasa. Sebaliknya, ia menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mengakhiri sistem yang menurutnya sudah tidak lagi layak dipertahankan.
Kerajaan yang terus memburuk
Langkah itu lahir dari pengamatan panjang terhadap situasi politik di kerajaan. Pangeran I An disebut sudah lama memantau kondisi tersebut dan melihat keadaan justru makin buruk dari waktu ke waktu.
Ia menilai ada masalah yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara lama. Salah satu pemicunya adalah keberadaan pihak-pihak yang haus kekuasaan dan kerap bertindak di luar batas.
Dari sana, keyakinannya semakin kuat bahwa sistem yang ada sudah tidak sehat. Ia melihat masalah bukan hanya pada orang-orang di dalamnya, tetapi juga pada struktur yang memungkinkan ketimpangan terus berjalan.
Monarki dinilai timpang
Pangeran I An memandang monarki hanya menguntungkan sebagian pihak. Dalam pandangannya, sistem itu ikut melahirkan kasta sosial yang membuat jarak antarkelompok semakin jelas.
Dampaknya tidak berhenti pada rakyat. Anggota keluarga kerajaan juga hidup dengan banyak batasan dan tidak bebas melakukan sejumlah hal.
Kondisi itu membuat monarki terlihat mengekang semua pihak. Namun beban terbesarnya tetap dirasakan rakyat di luar lingkar istana, sehingga penghapusan sistem dipandangnya sebagai jalan paling masuk akal.
Naik takhta untuk mengakhirinya
Setelah mempertimbangkan situasi politik, dominasi kelompok perebut kuasa, dan ketimpangan sosial yang muncul, Pangeran I An akhirnya memutuskan naik takhta. Tujuan akhirnya bukan mempertahankan kekuasaan, melainkan menghapuskan monarki itu sendiri.
Begitu menjadi raja, ia langsung mengajukan gagasan penghapusan monarki di depan kabinet. Langkah ini menunjukkan bahwa keputusannya tidak disimpan sebagai rencana pribadi, melainkan dibawa ke ruang politik resmi kerajaan.
Ia juga meminta rakyat ikut melakukan voting untuk menyetujui penghapusan sistem tersebut. Dengan cara itu, publik diberi ruang menentukan arah akhir kerajaan, bukan hanya elit istana.
Hasil voting menunjukkan rakyat setuju dengan penghapusan monarki. Setelah itu, Pangeran I An melepaskan kedudukannya sebagai raja dan memilih hidup sebagai rakyat biasa.
Dampak pada hidup pribadinya
Keputusan besar itu juga mengubah hidup pribadinya. Ia kemudian menjalani kehidupan sederhana bersama Seong Hui Ju setelah meninggalkan posisi yang sebelumnya ia raih.
Perjalanan Pangeran I An di Perfect Crown memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu dipakai untuk mempertahankan sistem lama. Dalam ceritanya, takhta justru menjadi pintu untuk menutup sebuah monarki yang dianggap sudah terlalu jauh menyimpang dari fungsi dasarnya.
Source: www.idntimes.com






