
Panas ekstrem kini bukan sekadar membuat tubuh terasa tidak nyaman. Pada ibu hamil, suhu tinggi dapat memicu dehidrasi, mengganggu aliran darah, dan meningkatkan risiko komplikasi pada janin.
Risiko ini menjadi perhatian besar di Indonesia karena jumlah ibu hamil mencapai sekitar 4,8 juta orang setiap tahun menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau BKKBN. Di tengah suhu udara yang kian panas, termasuk di Jakarta, kelompok ini menghadapi beban kesehatan yang lebih berat.
Mengapa ibu hamil lebih rentan
Tubuh ibu hamil harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu inti tetap normal. Saat udara panas, tubuh meningkatkan produksi keringat sebagai mekanisme pendinginan alami.
Masalah muncul ketika kelembapan udara tinggi menghambat penguapan keringat. Kondisi itu membuat risiko dehidrasi naik dan dalam situasi tertentu dapat berujung pada heatstroke.
Saat tubuh kepanasan, aliran darah juga lebih banyak diarahkan ke permukaan kulit untuk melepaskan panas. Pergeseran ini bisa mengurangi pasokan darah ke plasenta, padahal plasenta menjadi jalur utama oksigen dan nutrisi bagi janin.
Sari Kovats, ahli epidemiologi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, menegaskan paparan panas bisa berbahaya bagi perkembangan bayi. Ia menyebut kepanasan pada awal kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir pada anak.
Risiko komplikasi yang ikut meningkat
Suhu panas berlebih juga dikaitkan dengan preeklamsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, paparan panas ekstrem dapat menaikkan risiko kelahiran prematur.
Temuan lain datang dari penelitian berjudul Environmental Heat Stress on Maternal Physiology and Fetal Blood Flow in Pregnant Subsistence Farmers in The Gambia, West Africa: an Observational Cohort Study. Penelitian itu menunjukkan setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko ketegangan pada janin hingga 17 persen.
Paparan panas ekstrem juga disebut berdampak pada berat badan bayi saat lahir. Kondisi ini dapat membuat bayi lahir dengan berat di bawah 2,5 kilogram dan meningkatkan risiko bayi lahir mati atau stillbirth.
Dokter kandungan dan ginekologi dari Atrium Health, Caroline Cochrane, menjelaskan bahwa suhu tubuh yang tinggi dan dehidrasi berkaitan dengan komplikasi kehamilan. Ia menyebut dehidrasi dapat memicu peningkatan kontraksi, cairan amnion yang rendah, dan penurunan produksi ASI.
Perlindungan untuk kelompok paling rentan
Sejumlah langkah pencegahan dinilai perlu diperkuat agar ibu hamil lebih terlindungi saat gelombang panas melanda. Edukasi publik, akses air minum, serta fasilitas pendingin di ruang publik dan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dari perlindungan itu.
India menjadi salah satu contoh negara yang sudah menerapkan sistem peringatan dini untuk cuaca panas ekstrem. Dokter anak di rumah sakit Ahmedabad, Khyati Kakkad, mengatakan edukasi kepada masyarakat membantu mereka memahami pentingnya menjaga tubuh tetap terhidrasi dan menjaga rumah tetap sejuk.
Ia juga menekankan perlunya pembahasan terbuka mengenai bahaya kesehatan akibat panas ekstrem. Di tingkat layanan kesehatan, tenaga medis mulai dilatih agar siap menghadapi kemungkinan terburuk dari cuaca ekstrem, terutama untuk melindungi ibu hamil dan bayi yang termasuk kelompok paling rentan.
Dengan suhu yang terus naik di banyak wilayah, ancaman panas ekstrem terhadap kehamilan tidak bisa dipandang ringan. Perlindungan dasar seperti air minum yang cukup, ruangan yang sejuk, dan respons layanan kesehatan yang siap siaga menjadi kunci untuk menekan risiko pada ibu dan bayi.
Source: www.suara.com




