Pasokan LPG nasional segera mendapat penopang baru dari Karawang. Pabrik LPG terbesar di Jawa Barat itu disebut sudah rampung dan kini masuk tahap akhir komisioning, dengan target segera beroperasi untuk menekan impor.
Kabar ini penting karena fasilitas tersebut bisa menambah suplai LPG domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri. Di saat kebutuhan energi terus bergerak, kapasitas produksi baru seperti ini menjadi salah satu titik krusial dalam penguatan ketahanan energi nasional.
Pasokan Gas Besar, Output LPG Signifikan
Fasilitas itu memanfaatkan pasokan gas sebesar 40 MMSCFD dari lapangan offshore Pertamina ONWJ. Kandungan gas yang diproses juga cukup tinggi, dengan propane atau C3 sebesar 8 persen dan butane atau C4 sebesar 2 persen.
Dari skema tersebut, pabrik mampu menghasilkan LPG sekitar 170 hingga 190 metrik ton per hari. Selain LPG, fasilitas ini juga menghasilkan kondensat sekitar 350 barel minyak per hari atau BOPD.
Jika dikonversi, tambahan dari kondensat itu setara dengan lebih dari 2.000 BOPD lifting minyak. Artinya, kontribusi pabrik ini tidak berhenti pada pasokan LPG, tetapi juga ikut memberi nilai tambah bagi produksi migas nasional.
Teknologi Jerman untuk Maksimalkan Pemrosesan
Pabrik ini dibangun oleh PT Energi Mega Persada Tbk melalui anak usahanya PT ENP bersama PT EA. Fasilitas tersebut memakai teknologi asal Jerman berupa kombinasi 2-stage refrigenerator dan turbo expander.
Teknologi itu memungkinkan hingga 99 persen kandungan C3 dan C4 diproses optimal menjadi LPG. Dengan cara ini, pemanfaatan gas menjadi lebih efisien dan nilai tambah dari hulu bisa dimaksimalkan.
Tahap Akhir Menuju Operasi Komersial
Saat ini, komisioning terus dikebut agar fasilitas segera siap beroperasi. Secara paralel, tim juga menuntaskan Non-Destructive Test atau NDT pada jaringan pipa penyalur LPG, kondensat, dan lean gas.
Setelah NDT selesai, tahap berikutnya adalah hydrotest yang dijadwalkan pada Senin. Jika seluruh proses berjalan lancar, izin operasi tetap dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi ditargetkan terbit pada Kamis.
Dengan jadwal itu, lifting perdana dan penjualan LPG bisa dimulai pada Jumat. Momen ini akan menjadi penanda masuknya pasokan baru ke pasar domestik dalam skala yang cukup besar.
Nilai Tambah untuk Industri Lain
Lean gas hasil pemrosesan juga tidak akan dibuang sia-sia. Gas itu akan dialirkan sebagai bahan baku ke Pupuk Kujang.
Pemanfaatan tersebut memberi nilai tambah bagi industri pupuk nasional. Di saat yang sama, skema ini menunjukkan bahwa hilirisasi gas bisa memberi manfaat lintas sektor, bukan hanya untuk pasar energi rumah tangga.
Jika semua berjalan sesuai rencana, fasilitas ini akan menjadi salah satu tonggak penting dalam penguatan ekosistem hilirisasi gas nasional. Kehadirannya juga memperlihatkan kolaborasi SKK Migas, Pertamina, dan mitra swasta dalam mendorong peningkatan lifting migas nasional.
Source: www.ruangenergi.com






