Oxford Bawa Vaksin Ebola Bundibugyo ke Uji Manusia, Hanya 57 Hari Setelah Wabah

Universitas Oxford membawa kandidat vaksin Ebola Bundibugyo ke uji klinis Fase 1 hanya 57 hari setelah wabah diumumkan. Langkah ini menempatkan program tersebut sebagai salah satu respons pengembangan vaksin tercepat untuk penyakit menular dalam beberapa tahun terakhir.

Kandidat yang diuji bernama ChAdOx1 BDBV. Uji manusia itu akan melibatkan 50 orang dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun di Oxford, Inggris, untuk menilai keamanan sekaligus kemampuan vaksin memicu respons imun.

Pengembangan yang Bergerak Sangat Cepat

CEPI, lembaga yang mendukung pengembangan vaksin ini, menyebut tahap tersebut sebagai pencapaian yang sangat jarang terjadi di tengah wabah yang masih berlangsung. Dr. Nicole Lurie, Direktur Eksekutif untuk Kesiapan dan Respons di CEPI, mengatakan wabah Ebola yang sedang terjadi sudah menjadi wabah Ebola terbesar ketiga yang pernah tercatat, dengan kasus yang masih terus meningkat.

Ia menegaskan, “Setiap langkah membawa vaksin yang aman dan efektif lebih dekat dan memperkuat kemampuan kita untuk melindungi komunitas yang rentan, menyelamatkan nyawa, dan membantu mengendalikan wabah ini.”

Kolaborasi Oxford, CEPI, dan Serum Institute

Program ini digerakkan oleh kolaborasi Universitas Oxford, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations atau CEPI, dan Serum Institute of India Pvt. Ltd. Dua minggu setelah wabah dinyatakan, ketiganya meluncurkan kemitraan senilai $8,6 juta untuk mempercepat pengembangan vaksin hingga masuk uji klinis pada manusia.

Serum Institute yang berbasis di Pune juga bergerak cepat dalam produksi. Perusahaan itu menimbun sekitar 620.000 dosis vaksin eksperimental hanya dalam dua minggu untuk potensi penggunaan darurat, sekaligus memasok 4.000 dosis untuk uji coba Fase 1.

AspekDetail
Nama kandidat vaksinChAdOx1 BDBV
Tahap pengembanganUji klinis Fase 1
Peserta uji50 orang dewasa sehat
Rentang usia peserta18 hingga 55 tahun
Lokasi ujiOxford, Inggris
Waktu menuju uji manusia57 hari setelah wabah dinyatakan

Teknologi yang Sama dengan Platform Vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca

Vaksin ChAdOx1 BDBV dikembangkan oleh ilmuwan di Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute. Platform yang dipakai adalah vektor virus adenovirus simpanse ChAdOx, teknologi yang juga menjadi dasar vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca.

Platform serupa itu pernah menjadi bagian dari vaksin COVID-19 yang diperkirakan telah menyelamatkan lebih dari enam juta jiwa selama tahun pertama penggunaannya secara global. Bagi Oxford, pendekatan ini memberi dasar pengembangan yang sudah pernah dibuktikan dalam skala besar.

Profesor Teresa Lambe OBE, Kepala Imunologi Calleva di Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute, memimpin studi ini. Ia menyebut wabah Ebola Bundibugyo yang sedang berlangsung terus menghancurkan komunitas terdampak dan menegaskan kebutuhan mendesak akan vaksin serta pengobatan yang efektif.

Langkah Berikutnya Masih Menunggu Persetujuan

Selain uji di Oxford, persiapan studi klinis tambahan juga dilakukan di Uganda, dengan catatan masih menunggu persetujuan regulasi. Studi itu akan dijalankan bersama Dewan Riset Medis/Institut Riset Virus Uganda dan Unit Riset Uganda dari London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Rangkaian langkah ini menunjukkan bagaimana respons terhadap wabah Ebola Bundibugyo bergerak cepat dari pengembangan laboratorium ke tahap uji manusia. Jika persetujuan regulasi keluar, vaksin eksperimental itu akan memasuki fase berikutnya dengan harapan memberi perlindungan yang lebih nyata bagi komunitas yang paling terdampak.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait