Oversharing di Medsos Bisa Buka 4 Sisi Kepribadian Ini, Banyak yang Tak Sadar

Author: Cung Media

Oversharing di media sosial sering dianggap sekadar kebiasaan bercerita. Padahal, perilaku ini bisa memberi petunjuk tentang cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain, dan kebutuhan akan perhatian.

Di tengah rutinitas memakai Facebook, TikTok, hingga Instagram, batas antara berbagi dan terlalu terbuka makin tipis. Saat hampir semua detail hidup ikut masuk linimasa, beberapa sisi kepribadian bisa ikut terbaca tanpa disadari.

Ekstrovert biasanya lebih aktif berbagi

Orang ekstrovert umumnya suka interaksi dan aktivitas yang terasa menyenangkan. Karena itu, media sosial sering menjadi ruang yang pas untuk mengekspresikan diri lewat banyak unggahan.

Bagi mereka, hidup kerap dilihat sebagai petualangan yang seru. Membagikan momen di media sosial pun bisa terasa seperti cara menunjukkan sisi kehidupan yang menarik.

Kebiasaan ceroboh juga bisa ikut muncul

Oversharing tidak selalu lahir dari niat pamer, tetapi juga bisa berkaitan dengan sikap ceroboh. Saat terlalu asyik bermain media sosial, seseorang bisa tanpa sadar membagikan hal yang seharusnya tetap privat.

Contohnya adalah lokasi secara real-time, masalah keuangan, atau perseteruan dengan orang lain. Kebiasaan memposting tanpa jeda membuat risiko dari informasi yang dibagikan sering tidak sempat dipikirkan.

Rachel Goldsmith Turow, seorang psikoterapis, menyebut pembatasan penggunaan media sosial hingga 15 menit sehari dapat membantu mengurangi risiko kecemasan, depresi, dan FOMO. Istirahat dari ponsel menjadi penting agar kebiasaan berbagi tidak berubah menjadi kelalaian.

Keinginan validasi sering ikut mendorong

Oversharing juga kerap terkait dengan kebutuhan akan validasi. Dalam banyak kasus, jumlah like dan komentar menjadi ukuran perhatian dari orang lain.

Psikolog Susan Krauss Whitbourne menjelaskan bahwa orang yang terus-menerus membutuhkan persetujuan cenderung menekan perasaan dan pikiran mereka yang sebenarnya demi menyenangkan orang lain. Pola ini membuat unggahan di media sosial terasa seperti cara mencari pengakuan.

Perfeksionis ingin tampil tanpa celah

Ciri lain yang sering tampak adalah perfeksionisme. Orang seperti ini tidak hanya memakai media sosial untuk membagikan hidup, tetapi juga untuk menampilkan versi terbaik dari hidupnya.

Mereka cenderung memposting momen terbaik dan menghindari sisi terburuk. Dorongan menjaga citra yang sempurna membuat media sosial terasa seperti panggung yang harus selalu rapi.

Namun, pola itu tidak selalu sehat. Penelitian yang disebut dalam Journal of Social of Clinical Psychology menunjukkan perfeksionis di media sosial kerap berkaitan dengan depresi, keterasingan sosial, dan kurangnya rasa memiliki di kehidupan nyata.

Pada akhirnya, oversharing di media sosial bisa menjadi cerminan cara seseorang melihat diri sendiri dan penilaian orang lain. Dari ekstrovert yang gemar berbagi, pengguna yang ceroboh, pencari validasi, hingga perfeksionis, linimasa sering menyimpan petunjuk kepribadian yang lebih dalam dari sekadar unggahan harian.

Source: www.beautynesia.id
Terbaru