OpenAI Disebut Sudah Pakai AI untuk Merancang Model Berikutnya, Debat Perlambat AI Makin Panas

Author: Cung Media

Perdebatan soal laju pengembangan AI kembali memanas setelah Masayoshi Son menyebut OpenAI sudah memakai AI untuk membantu merancang model berikutnya. Pernyataan itu langsung mengubah diskusi lama tentang kemampuan model menjadi pertanyaan yang lebih besar, yakni sejauh mana AI kini ikut membangun AI generasi setelahnya.

Son mengatakan Sam Altman dan para insinyur OpenAI memberitahunya bahwa sebuah model AI telah membantu merancang model AI generasi berikutnya. Ia menilai hal itu sebagai tanda awal pergeseran menuju superintelligence, ketika sistem AI menjadi jauh lebih cerdas daripada manusia dan ikut berperan dalam menciptakan penerusnya sendiri.

Anthropic dorong mekanisme perlambatan

Komentar Son muncul saat Anthropic justru mendorong pemerintah dan perusahaan AI menyiapkan mekanisme perlambatan sementara bila teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengelolanya dengan aman. Perusahaan itu menilai industri perlu punya cara untuk berkoordinasi jika sistem paling canggih mulai bergerak terlalu cepat.

Salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark, menggambarkan situasi industri saat ini sebagai kondisi yang sudah memiliki pedal gas, tetapi belum memiliki pedal rem. Kekhawatiran mereka terpusat pada masa depan ketika AI mungkin bisa merancang, membangun, dan melatih model baru dengan sedikit atau tanpa campur tangan manusia.

OpenAI mengakui AI sudah ikut dalam proses pengembangan

OpenAI tidak mengomentari model yang belum dirilis, tetapi perusahaan itu memberikan contoh bahwa AI memang sudah dipakai dalam pengembangan model. Pada Februari, OpenAI menyatakan GPT-5.3-Codex adalah “model pertama” mereka yang berperan penting dalam menciptakan dirinya sendiri.

Menurut penjelasan OpenAI, versi awal model itu digunakan untuk men-debug proses pelatihan, mengelola deployment, serta membantu mendiagnosis hasil pengujian dan evaluasi. Peran tersebut belum berarti AI sepenuhnya merancang penerusnya sendiri, tetapi menunjukkan bahwa AI makin penting sebagai alat untuk mempercepat pengembangan AI.

Son makin agresif dorong narasi ASI

Son juga mengaitkan perkembangan ini dengan gagasan Artificial Superintelligence atau ASI, yaitu sistem AI hipotetis yang melampaui kecerdasan manusia di hampir semua bidang. Pada 2024, ia menyebut ASI sebagai sistem yang 10.000 kali lebih pintar daripada manusia dan memperkirakan kemunculannya dalam satu dekade.

Kini, ia menilai waktunya bisa jauh lebih singkat. Kepada CNBC, Son mengatakan dulu ia menyebut 10 tahun karena ingin konservatif, tetapi sekarang ia melihat ASI bisa datang dalam dua tahun ke depan, setelah sebelumnya sempat memperkirakan empat tahun.

Son juga mengaku menggunakan ChatGPT selama dua hingga tiga jam setiap hari dan menilai teknologi itu sudah lebih berpengetahuan daripada dirinya di sebagian besar bidang. Ia memperkirakan AI akan melampaui kecerdasan manusia di sekitar 70 persen hingga 80 persen mata pelajaran dalam beberapa tahun mendatang.

Gabungan antara klaim Son, pengakuan OpenAI bahwa AI sudah membantu membangun model, dan dorongan Anthropic untuk menyiapkan “pedal rem” membuat satu hal semakin jelas: AI bukan lagi sekadar produk yang dikembangkan manusia, tetapi juga alat yang mulai ikut menentukan bagaimana generasi berikutnya lahir.

Source: www.indiatoday.in
Terbaru