Pasar Asemka, Jakarta Barat, biasanya menjadi tujuan utama orang tua menjelang tahun ajaran baru. Tahun ini, suasananya tetap ramai, tetapi nilai belanja di lapak alat tulis justru turun cukup tajam.
Sejumlah pedagang menyebut omzet mereka merosot hingga hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di saat permintaan perlengkapan sekolah masih ada, kenaikan harga pasokan dan pembelian yang lebih selektif membuat hasil penjualan tidak sekuat biasanya.
Ramai pengunjung, tetapi nilai belanja menurun
Pedagang alat tulis di Pasar Asemka, Noval (32), mengatakan arus pembeli masih terlihat karena kebutuhan sekolah sedang tinggi. Namun, jumlah barang yang dibeli dinilainya tidak sebesar tahun lalu.
“Untuk penjualan saat ini memang ramai karena mau tahun ajaran baru. Tapi kalau dibandingkan tahun kemarin ini menurun. Penurunannya drastis, hampir 20 persen,” kata Noval saat ditemui di lapaknya di Pasar Asemka, Jakarta Barat, dilansir Antara, Rabu, 8 Juli 2026.
Noval juga menjelaskan bahwa dampaknya terasa langsung pada pendapatan harian. Pada musim tahun ajaran baru 2025, omzetnya masih bisa berada di kisaran Rp30 juta hingga Rp50 juta per hari, sedangkan kini Rp30 juta disebut menjadi batas atas yang sulit dicapai.
“Kalau sekarang, paling besar Rp30 juta. Jadi selisih omzetnya bisa Rp20 juta sehari,” ujarnya.
Bantuan sekolah ikut mengurangi daftar belanja
Menurut Noval, salah satu alasan pembelian berkurang adalah adanya bantuan perlengkapan sekolah dari pihak sekolah. Ia menyebut beberapa barang seperti pulpen dan buku sudah diterima siswa langsung dari sekolah, sehingga kebutuhan belanja ke pasar ikut menyusut.
“Sepertinya sudah ada bantuan dari sekolahan. Pulpen, buku, biasanya sudah pada dapat dari sekolah,” tuturnya.
Faktor belanja daring juga dinilai tidak terlalu menekan pasar fisik seperti Asemka. Noval berpendapat harga alat tulis di toko online cenderung lebih mahal jika dihitung bersama biaya aplikasi dan ongkos kirim.
Harga pasokan terus naik, stok harus dijaga
Di sisi lain, pedagang juga menghadapi kenaikan harga dari pemasok. Noval menyebut harga alat tulis, terutama buku, bergerak naik hampir setiap lima hari sekali karena pasokan sempat tersendat.
“Ada kenaikan harga, tiap minggu naik terus. Hampir lima hari sekali naik dia. Dari harga Rp40 ribu, naik jadi Rp45 ribu, Rp50 ribu, sampai Rp60 ribu. Mungkin karena barangnya agak susah dari pusat,” jelasnya.
Kondisi itu membuat pedagang harus lebih hati-hati dalam menata stok. Noval memilih membatasi barang yang dibawa setiap hari agar risiko kerugian bisa ditekan jika permintaan tidak sekuat perkiraan.
“Kalau untuk saat ini stok enggak banyak. Hanya lima dus (per hari), tapi alhamdulillah habis,” imbuhnya.
Barang yang masih paling dicari
Meski tekanan datang dari sisi omzet dan biaya pasokan, kebutuhan dasar sekolah tetap menjadi incaran utama pembeli. Buku tulis, pulpen, dan pensil masih mendominasi daftar belanja orang tua yang datang ke Asemka untuk mempersiapkan tahun ajaran baru.
Situasi ini menunjukkan pasar masih bergerak, tetapi dengan ritme yang lebih hati-hati daripada musim belanja sebelumnya. Bagi pedagang, kombinasi antara kenaikan harga, bantuan perlengkapan dari sekolah, dan pembelian yang lebih selektif membuat tahun ini terasa lebih berat.
Source: www.medcom.id






