Obesitas Mengancam Lebih Cepat dari Stunting, Literasi Gizi Harus Ikut Berubah

Ancaman gizi di Indonesia tidak lagi hanya soal kekurangan gizi. Di saat penurunan stunting masih menjadi prioritas, obesitas dan kelebihan berat badan justru terus naik dan mulai membentuk krisis baru yang tak kalah serius.

Kondisi ini menunjukkan beban ganda gizi yang makin nyata. Di satu sisi, upaya menekan stunting masih berjalan, tetapi di sisi lain masyarakat juga makin rentan terhadap penyakit tidak menular akibat pola makan tinggi gula, garam, dan lemak.

Obesitas dan overweight terus menekan

Senior Policy Advisor Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Aang Sutrisna, menilai pemerintah tidak cukup hanya berfokus pada capaian penurunan stunting. Menurut dia, target stunting 14% sesuai RPJMN 2029 tidak boleh diiringi lonjakan obesitas dan overweight yang melampaui angka tersebut.

Data Kementerian Kesehatan memperlihatkan bahwa tekanan itu sudah terlihat. Prevalensi obesitas tercatat mencapai 23,2% pada 2023, sementara angka kelebihan berat badan berada di level 14%.

Indikator GiziAngkaTahun
Obesitas23,2%2023
Kelebihan berat badan14%2023
Target stunting RPJMN 202914%2029

Angka itu memperkuat kekhawatiran bahwa persoalan gizi di Indonesia bergerak ke dua arah sekaligus. Sebagian kelompok masih menghadapi kekurangan gizi, sementara kelompok lain justru berhadapan dengan kelebihan gizi.

Literasi gizi dinilai harus berubah

Menurut Aang, pembangunan sistem pangan tidak cukup hanya memastikan pangan tersedia. Masyarakat juga perlu dibekali literasi gizi agar bisa memilih makanan yang lebih sehat, bukan sekadar murah atau enak.

Ia menilai perubahan perilaku konsumsi menjadi kunci untuk menahan laju obesitas. Tanpa pemahaman yang lebih baik tentang kualitas pangan, bertambahnya ketersediaan makanan tidak otomatis membuat pola makan menjadi sehat.

Di titik ini, inovasi digital dinilai bisa membantu. Platform digital dapat memudahkan masyarakat memahami kandungan gizi sebelum membeli makanan, termasuk produk olahan dan makanan kemasan.

Teknologi bisa bantu pilih makanan yang lebih sehat

Aang mengatakan aplikasi pangan sebaiknya tidak berhenti pada tampilan informasi gizi. Platform semacam itu juga perlu memberi bantuan yang lebih mudah dipahami agar masyarakat bisa mengenali pangan yang lebih sehat.

Fitur tersebut dinilai relevan untuk mendukung penerapan Nutri-Score yang mulai diperkenalkan pemerintah. Dengan alat bantu yang praktis, masyarakat dapat menilai kualitas produk tanpa harus membaca seluruh detail label secara manual.

“Kemenkes sebenarnya sudah meluncurkan Nutri-Score, tetapi alat bantu bagi masyarakat untuk mengenali kategori pangan yang lebih sehat masih belum ada,” ujar Aang. Ia menambahkan bahwa ruang pengembangan dari sisi digital masih terbuka lebar.

Sampah makanan ikut menunjukkan masalah yang sama

Selain obesitas, persoalan lain yang menyoroti rapuhnya sistem pangan adalah tingginya sampah makanan. Aang menilai kondisi itu membuktikan bahwa transformasi pangan tidak cukup hanya mengejar produksi, tetapi juga harus menyentuh pola konsumsi dan efisiensi penggunaan pangan.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan sampah makanan terbesar kedua di dunia pada 2019. Volume sampah makanan itu mencapai sekitar 112 kilogram per kapita per tahun.

Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp400 triliun per tahun. Karena itu, pengurangan food loss dan food waste dianggap sebagai bagian penting dari pembenahan sistem pangan nasional.

Transformasi pangan harus menyentuh konsumsi

Aang menilai platform digital juga bisa dipakai untuk edukasi agar masyarakat lebih bijak mengurangi sampah makanan. Pada saat yang sama, teknologi dapat mendorong konsumsi pangan lokal yang lebih berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa transformasi sistem pangan harus berjalan secara menyeluruh. Upaya memperkuat produksi perlu diiringi perbaikan efisiensi konsumsi agar masalah gizi dan pemborosan pangan sama-sama bisa ditekan.

“Kita punya paradoks. Sampah makanan sangat besar, tetapi di sisi lain masih ada kerawanan pangan,” ujarnya. Kondisi itu menunjukkan bahwa pembenahan literasi gizi, pemanfaatan teknologi, dan perubahan pola konsumsi saling terkait dalam menghadapi ancaman obesitas yang kian besar.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait