Nissan Grafit 2026 mulai mencuri perhatian karena hadir sebagai MPV murah tujuh penumpang dengan harga awal sekitar Rp105 jutaan. Kehadirannya langsung memunculkan pembicaraan soal potensi gangguan terhadap Toyota Calya dan Daihatsu Sigra di segmen LCGC MPV jika model ini kelak dipasarkan di Indonesia.
Mobil ini memang belum dijual di Tanah Air dan baru diperkenalkan di India. Namun kombinasi harga agresif, kabin tujuh penumpang, dan fitur keselamatan yang lengkap membuat Nissan Grafit 2026 terlihat serius menyasar keluarga yang mencari mobil terjangkau.
Harga perkenalan yang sangat kompetitif
Daya tarik paling kuat dari Grafit ada pada banderol perkenalannya. Untuk 1.001 konsumen pertama di India, Nissan menetapkan harga sekitar 5,65 lakh rupee atau setara Rp105 jutaan.
Angka tersebut menempatkan Grafit sebagai salah satu MPV tujuh penumpang yang paling disorot di kelasnya. Nissan juga menyiapkan manfaat tambahan bagi 5.000 pemesan awal, termasuk gratis perawatan 5 tahun, skema pembiayaan khusus, dan program upgrade kendaraan.
Selain itu, ada edisi terbatas 1.001 unit dengan fitur tambahan. Varian ini membawa audio JBL, ambient lighting, dan dashcam dual channel untuk memberi nilai lebih di luar paket standar.
Mesin kecil untuk efisiensi harian
Di balik kap mesin, Grafit menggunakan mesin 1.0 liter tiga silinder naturally aspirated. Tenaganya berada di kisaran 72 dk dengan torsi 96 Nm, yang lebih diarahkan untuk kebutuhan mobilitas keluarga dan penggunaan harian.
Pilihan transmisinya terdiri dari manual 5 percepatan dan AMT. Nissan mengklaim konsumsi bahan bakarnya mencapai sekitar 19,3 km/l untuk versi manual dan 19,6 km/l untuk varian AMT.
Ada pula opsi mesin CNG dual silinder pada varian manual. Opsi itu memberi alternatif bagi konsumen yang ingin menekan biaya operasional lebih jauh.
Basis Renault Triber dengan dimensi kompak
Secara teknis, Nissan Grafit dibangun dari platform yang sama dengan Renault Triber. Pendekatan ini membantu menekan biaya produksi karena tingkat lokalisasinya tinggi.
Ukuran bodinya tergolong ringkas untuk sebuah MPV keluarga. Panjangnya sekitar 3.987 mm, lebar 1.734 mm, tinggi 1.644 mm, dan wheelbase 2.636 mm.
Ground clearance 182 mm menjadi nilai tambah untuk penggunaan harian. Angka tersebut mendukung mobil ini saat melintasi jalan perkotaan maupun permukaan jalan yang tidak selalu rata.
Desain luar lebih mendekati SUV
Nissan memberi Grafit tampilan yang tidak sepenuhnya mengikuti pakem MPV konvensional. Nuansa SUV terlihat dari postur tinggi, grille besar khas Nissan, serta bumper yang dibuat lebih berotot.
Lampu LED berbentuk C menjadi elemen visual yang menonjol. Di sisi samping, velg alloy dan roof rail memperkuat kesan modern sekaligus sporty.
Bagian belakang juga dibuat lebih tegas lewat lampu LED yang tampak menyatu secara visual. Walau masih membawa basis desain dari Triber, Nissan tetap memberi sentuhan pembeda agar tampil lebih segar.
Kabin tujuh penumpang dan fitur keluarga
Masuk ke kabin, fokus utama Grafit ada pada fleksibilitas ruang. Konfigurasi tujuh kursi dipadukan dengan bangku baris kedua yang bisa digeser dan direbahkan agar akses ke baris ketiga lebih mudah.
Tata letak interior dibuat sederhana dan fungsional. Nissan juga menyiapkan banyak ruang penyimpanan serta lantai kabin yang relatif rata untuk mendukung kenyamanan penumpang.
Pada varian tertinggi, tersedia layar infotainment 8 inci dan panel instrumen digital 7 inci. Fitur lain yang ikut disiapkan mencakup konektivitas smartphone, cruise control, push start button, wireless charger, dan ventilasi AC belakang.
Fitur keselamatan menjadi pembeda
Di sektor keselamatan, Nissan Grafit tampil cukup lengkap untuk ukuran MPV murah. Daftarnya mencakup enam airbag, electronic stability control, ABS dengan EBD, hill start assist, sensor parkir, kamera mundur, dan TPMS.
Kelengkapan itu membuat Grafit tidak hanya bertumpu pada harga rendah. Nissan mencoba menaikkan daya saing dengan menawarkan paket fitur yang relevan bagi kebutuhan keluarga.
Jika nantinya hadir di Indonesia, Nissan Grafit 2026 berpotensi memberi tekanan baru di segmen LCGC MPV. Namun daya saingnya tetap akan bergantung pada jaringan servis, ketersediaan suku cadang, dan nilai jual kembali, terutama di pasar yang selama ini sudah kuat dikuasai pemain lama.
