Niat Salat Idul Adha 2026 Jangan Sampai Keliru, Ini Bedanya Imam, Makmum, dan Sendiri

Menjelang Idul Adha, satu hal yang sering dicari umat Islam adalah bacaan niat salat yang tepat sesuai peran masing-masing. Perbedaan lafaz untuk imam, makmum, dan orang yang salat sendiri tidak boleh tertukar karena setiap posisi memiliki niat yang berbeda.

Hal ini penting bukan hanya untuk ketepatan bacaan, tetapi juga agar salat berjamaah berjalan sesuai tata cara yang dianjurkan. Salat Idul Adha sendiri menjadi ibadah utama pada pagi 10 Dzulhijjah dan termasuk sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan bagi Muslim laki-laki maupun perempuan.

Bedanya niat imam, makmum, dan munfarid

Untuk imam, lafaz niat yang dibaca adalah: “Ushalli sunnatal li ‘idil adha rak’ataini imaman lillahi ta’ala.” Artinya, aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah Ta’ala.

Untuk makmum, bacaannya berbeda pada bagian peran, yakni: “Ushalli sunnatal li ‘idil adha rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala.” Artinya, aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah Ta’ala.

Jika salat dilakukan sendiri atau munfarid, lafaznya menjadi: “Usholli sunnatan ‘iidil adhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati lillaahi ta’aalaa.” Artinya, aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.

Perbedaan ini sering dicari karena salat Idul Adha umumnya dikerjakan berjamaah di masjid atau lapangan. Meski begitu, salat ini juga boleh ditunaikan sendiri jika diperlukan.

Tata cara dua rakaat yang perlu diperhatikan

Secara gerakan, salat Idul Adha mirip dengan salat biasa, tetapi ada tambahan takbir yang menjadi ciri khas. Pada rakaat pertama ada tujuh takbir tambahan, sedangkan pada rakaat kedua ada lima takbir tambahan.

Rakaat pertama dimulai dengan takbiratul ihram sambil menghadirkan niat di dalam hati. Setelah itu, jamaah membaca doa iftitah lalu melanjutkan takbir tambahan sebanyak tujuh kali.

Di sela-sela takbir tambahan, disunnahkan membaca tasbih: “Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.” Setelah takbir selesai, imam dan makmum membaca Surah Al-Fatihah, lalu surat pendek yang dianjurkan adalah Surah Al-A’la.

Setelah itu, rakaat pertama dilanjutkan dengan rukuk, iktidal, dan sujud dua kali seperti salat pada umumnya. Jamaah kemudian berdiri untuk masuk ke rakaat kedua.

Pada rakaat kedua, jamaah bangkit dari sujud sambil bertakbir. Setelah berdiri, dilakukan takbir tambahan sebanyak lima kali dengan bacaan tasbih yang sama di antaranya.

Berikutnya, jamaah membaca Surah Al-Fatihah dan surat pendek, yang dianjurkan adalah Surah Al-Ghasyiyah. Rakaat kedua ditutup dengan rukuk, iktidal, sujud dua kali, tahiyat akhir, lalu salam.

Khutbah setelah salat tetap dianjurkan didengar

Setelah salam, jamaah dianjurkan tidak langsung meninggalkan tempat salat. Mereka disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Adha yang disampaikan khatib hingga selesai.

Mendengarkan khutbah ini bersifat sunnah, tetapi kehadirannya menjadi pelengkap yang menyempurnakan pahala ibadah salat Id. Karena itu, jamaah biasanya tetap bertahan di tempat hingga khutbah berakhir.

Amalan sunnah yang biasa mengiringi salat Idul Adha

Selain niat dan tata cara, ada sejumlah amalan sunnah yang biasa dilakukan pada hari raya kurban. Di antaranya mandi sebelum berangkat salat dan memakai wangi-wangian.

Laki-laki juga dianjurkan mengenakan pakaian terbaik, termasuk pakaian berwarna putih. Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sebelum salat.

Makan dilakukan setelah salat Idul Adha selesai. Saat menuju tempat salat, jamaah juga dianjurkan berjalan kaki jika memungkinkan.

Rute berangkat dan pulang pun disunnahkan berbeda sebagai bentuk syiar Islam. Sepanjang perjalanan menuju masjid atau lapangan, umat Islam dianjurkan mengumandangkan takbir agar suasana Idul Adha terasa lebih hidup dan penuh pengagungan kepada Allah.

Dengan memahami niat sesuai posisi sebagai imam, makmum, atau munfarid, pelaksanaan salat Idul Adha menjadi lebih tertib dan mantap. Rangkaian dua rakaat dengan tambahan takbir, lalu mendengarkan khutbah, menjadi inti ibadah pada pagi 10 Dzulhijjah.

Source: www.suara.com
Terkait