New Glenn Bekas Pakai Mendarat Sempurna, BlueBird 7 Meluncur Ke Orbit Yang Tak Tepat

Author: Cung Media

Blue Origin kembali menarik perhatian industri antariksa setelah roket New Glenn berhasil meluncur dari Cape Canaveral, Florida, dalam misi yang disebut NG-3. Penerbangan ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya perusahaan tersebut memakai kembali perangkat peluncur bekas untuk misi orbit, sebuah langkah penting dalam pengembangan roket yang dapat digunakan ulang.

Namun, pencapaian itu tidak datang tanpa catatan. Muatan utama, satelit BlueBird 7 milik AST SpaceMobile, memang berhasil terpisah dari roket dan menyala, tetapi kemudian melaju ke orbit yang tidak sesuai target sehingga tidak dapat menjalankan operasi normal sebagaimana direncanakan.

Tonggak baru dalam penggunaan ulang roket

Penerbangan NG-3 menandai fase baru bagi Blue Origin dalam persaingan peluncuran antariksa komersial. Booster yang digunakan dalam misi ini adalah perangkat yang sama dari penerbangan sebelumnya, NG-2, dan keberhasilan mendaratkannya kembali di laut memperlihatkan kemajuan pada sistem penggunaan ulang.

Langkah ini penting karena reusability menjadi salah satu faktor utama dalam efisiensi peluncuran. Dengan memakai ulang booster, perusahaan bisa menekan biaya dan berpotensi meningkatkan frekuensi misi, dua hal yang sangat menentukan dalam pasar satelit dan layanan ruang angkasa.

New Glenn sendiri merupakan roket besar dengan tinggi sekitar 322 kaki. Ukurannya disebut sekitar 100 kaki lebih tinggi dibanding Falcon 9 milik SpaceX, dan mendekati Space Launch System milik NASA yang digunakan untuk misi Artemis II mengitari Bulan.

Satelit terlepas, tetapi orbit melenceng

Blue Origin menyatakan bahwa pemisahan muatan berlangsung sesuai prosedur. Dalam pernyataannya di media sosial, perusahaan mengatakan, “We have confirmed payload separation. AST SpaceMobile has confirmed the satellite has powered on. The payload was placed into an off-nominal orbit.”

AST SpaceMobile kemudian memperjelas situasi tersebut. Perusahaan menyebut BlueBird 7 berhasil lepas dari roket dan dinyalakan, tetapi ketinggian orbitnya terlalu rendah untuk mendukung operasi normal dengan sistem pendorong yang ada di satelit itu.

Kondisi ini membuat satelit tidak bisa menjalankan tugas sesuai skema misi. AST SpaceMobile menyampaikan bahwa BlueBird 7 akan de-orbit, sementara biaya pembuatannya diperkirakan tertutup oleh polis asuransi perusahaan.

Makna bagi Blue Origin dan persaingan industri

Kombinasi antara keberhasilan pendaratan booster dan masalah pada orbit satelit menunjukkan bahwa sebuah peluncuran antariksa dapat berjalan baik di satu sisi, tetapi tetap gagal memenuhi target misi secara menyeluruh. Dalam konteks industri, hasil seperti ini tetap memberi pelajaran penting bagi operator dan klien muatan.

Bagi Blue Origin, misi NG-3 tetap menjadi pencapaian berarti karena perusahaan membuktikan kemampuan memakai ulang booster untuk penerbangan orbit. Pencapaian itu menjadi modal penting saat perusahaan berupaya memperkuat posisinya di antara pemain besar, termasuk SpaceX milik Elon Musk.

Di sisi lain, hasil BlueBird 7 mengingatkan bahwa keberhasilan teknis tidak berhenti pada lepas landas dan pemisahan muatan. Orbit yang tepat tetap menjadi penentu apakah satelit bisa masuk fase operasi yang dirancang sejak awal.

Agenda berikutnya tetap berjalan

Blue Origin juga masih menyiapkan misi lain dalam agenda berikutnya, termasuk rencana peluncuran lander Mark 1 Blue Moon tanpa awak ke Bulan pada akhir musim panas. Perusahaan menyebut wahana itu telah menjalani uji lingkungan di NASA’s Johnson Space Center di Houston.

Meski demikian, hasil NG-3 memberi sinyal bahwa setiap misi berikutnya akan berada di bawah pengawasan lebih ketat. Dalam industri antariksa, keberhasilan booster mendarat tidak selalu cukup jika muatan utama tidak sampai ke orbit yang benar sesuai kebutuhan misi.

Terbaru