Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyebut Kota Masyhad, Iran, tetap ramai dan berjalan normal saat dirinya berada di sana untuk menghadiri upacara pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dari pengamatannya, tidak tampak tanda-tanda kota itu berada dalam kondisi perang.
Pernyataan itu muncul di tengah perhatian publik terhadap situasi keamanan Iran. Muzani menilai aktivitas warga di kota tersebut berlangsung seperti biasa, tanpa pemandangan ketegangan yang mencolok di ruang publik.
Aktivitas warga terlihat normal
Muzani mengatakan kondisi Masyhad saat ia datang justru sangat ramai. Ia menegaskan tidak melihat tanda-tanda negara itu sedang dalam situasi perang.
“Situasinya, Kota Masyhad ketika kami datang, saya kira situasinya sangat ramai. Tidak ada tanda-tanda negara itu dalam kondisi perang,” ungkap Muzani dikutip Rabu 15 Juli 2026.
Ia juga menyebut tidak terlihat personel militer yang lalu lalang atau berjaga dengan senjata di area yang dilaluinya. Menurut dia, kehidupan masyarakat tetap berlangsung tanpa kehadiran kekuatan bersenjata yang mencolok di tengah aktivitas publik.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi | Kota Masyhad, Iran |
| Kesaksian utama | Ramai dan normal, tanpa tanda-tanda perang |
| Keamanan yang terlihat | Tidak tampak personel militer atau kekuatan bersenjata yang mencolok |
| Perjalanan Muzani | Tidak masuk ke Teheran, hanya melintas menuju Masyhad |
Tak melintas ke Teheran
Muzani menjelaskan dirinya tidak masuk ke Teheran dan hanya melintas menuju Masyhad. Karena itu, pengalamannya terbatas pada kondisi kota yang ia lewati dan tidak mencakup gambaran langsung dari ibu kota Iran.
“Setidaknya itu. Saya karena, saya tidak masuk ke Teheran, saya lewat, masuknya ke Masyhad. Jadi, ya, seperti itu,” jelasnya.
Indonesia dorong perdamaian
Di kesempatan yang sama, Muzani menegaskan sikap Indonesia yang mencintai perdamaian. Ia berharap ketegangan peperangan dapat diselesaikan melalui jalan damai di tengah kondisi yang berat.
Ia juga menyampaikan harapan agar Mohammad Ghalibaf dapat memakai pengaruh dan kewenangannya untuk menghentikan perang. Menurut Muzani, pesan itu mewakili suara rakyat dan bangsa Indonesia.
“Kami percaya kepada Yang Mulia Mohammad Ghalibaf untuk bisa melakukan tindakan dengan menggunakan pikiran, ucapan, tindakan, dan tanda tangannya untuk menghentikan peperangan. Itu adalah pesan dari seluruh rakyat dan bangsa Indonesia,” kata dia.
Muzani kemudian menegaskan keyakinannya bahwa perbedaan pandangan harus ditempuh lewat diplomasi, dialog, dan perundingan. Ia menyebut tidak ada keraguan terhadap komitmen Ghalibaf sebagai ketua juru runding Iran untuk mengupayakan penghentian perang.
“Karena itu kami tidak meragukan sedikitpun komitmen dari Yang Mulia sebagai ketua juru runding Iran untuk menghentikan perang, mengatasi semua perbedaan pandangan dengan cara diplomasi, dialog, dan perundingan sebagai jalan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan itu,” tandasnya.
Gambaran yang disampaikan Muzani menempatkan Masyhad sebagai kota yang tetap hidup normal di tengah sorotan atas keamanan Iran. Kesaksiannya juga memperlihatkan pesan Indonesia yang konsisten mendorong penyelesaian konflik lewat jalur damai.
Source: www.viva.co.id






