
Harga mobil premium bekas memang sedang menggoda, terutama karena banyak model yang dulu identik dengan status sosial tinggi kini bisa dibeli dengan dana yang jauh lebih ringan. Tetapi murah di awal tidak berarti murah saat dipakai, karena pajak, konsumsi bahan bakar, dan servis tetap bisa menyedot anggaran keluarga.
Data Gaikindo dan pasar mobil bekas menunjukkan depresiasi mobil premium bisa mencapai 60 hingga 70 persen dalam lima tahun pertama. Beban pajaknya juga sering tetap berat karena mengikuti NJKB awal, sehingga mobil yang terlihat hemat justru berpotensi menjadi pengeluaran rutin yang tidak kecil.
SUV yang tampak terjangkau, tapi tetap berat di ongkos
Honda CR-V generasi pertama menjadi contoh paling jelas dari mobil bekas yang murah di pasar tetapi tidak ramah biaya kepemilikan. Harganya berada di kisaran Rp50–90 juta, namun pajak tahunannya masih sekitar Rp4,5–6,8 juta.
SUV ini menawarkan utilitas besar untuk keluarga, tetapi konsumsi BBM yang boros membuatnya lebih cocok untuk pembeli yang siap dengan biaya rutin. Toyota Fortuner generasi pertama juga masuk kategori serupa, dengan harga bekas Rp115–170 juta dan pajak tahunan sekitar Rp7–9,2 juta.
Biaya tahunan Fortuner dinilai terasa setara dengan membeli motor matik baru setiap tahun. Karena itu, model ini lebih masuk akal bila dipakai untuk mobilitas luar kota dengan solar non-subsidi, bukan untuk lalu lintas perkotaan yang padat.
Mitsubishi Pajero Sport ikut menarik perhatian karena citra SUV diesel yang tangguh dan masih diminati. Di pasar mobil bekas, harganya berada di kisaran Rp130–180 juta dengan pajak tahunan Rp7–8,5 juta.
Masalah utama Pajero Sport tetap sama, yakni pajak dan biaya bahan bakar non-subsidi yang tidak ringan. Mobil ini lebih cocok untuk perjalanan luar kota dibanding dijadikan kendaraan harian di dalam kota.
MPV dan sedan besar, nyaman di kabin tapi tidak ringan di dompet
Toyota Alphard generasi pertama sering terlihat sangat menarik berkat kabin lapang dan kenyamanan tinggi. Namun harga bekas Rp94–170 juta belum mencerminkan beban kepemilikan sebenarnya.
Pajak tahunan Alphard berada di kisaran Rp9–13 juta, sementara servis juga tergolong mahal. Model ini lebih pas untuk keluarga mapan yang sudah punya mobil harian lain.
Toyota Camry XV30 juga kerap dilirik karena menawarkan citra sedan besar dengan harga yang sudah turun. Di pasar bekas, mobil ini berada pada rentang Rp110–150 juta.
Sedan ini dikenal boros BBM dan tetap dibebani pajak tinggi. Camry XV30 lebih cocok untuk perjalanan jarak jauh ketimbang dipakai setiap hari dengan pola stop-and-go.
Mobil Eropa bekas, murah saat dibeli tapi penuh risiko
BMW E46 menjadi pilihan yang menarik bagi pencari sensasi berkendara. Harga bekasnya berada di kisaran Rp70–110 juta, angka yang terlihat sangat terjangkau untuk sebuah BMW.
Tetapi biaya servis dan suku cadang bisa membuat pemilik kewalahan. Mobil ini lebih pas untuk enthusiast, bukan untuk pembeli awam yang menginginkan mobil keluarga tanpa banyak kejutan biaya.
Mercedes-Benz W203 juga berada dalam kelompok yang sama. Dengan harga bekas sekitar Rp80–120 juta, sedan ini tampak seperti peluang memiliki mobil premium dengan modal rendah.
Risiko terbesarnya ada pada sistem elektronik yang rawan bermasalah. Biaya perbaikannya bahkan bisa terasa setara dengan harga mobil, sehingga unit ini hanya layak dipertimbangkan bila pemilik punya akses ke bengkel spesialis Mercedes-Benz.
Pola dari tujuh model itu terlihat konsisten, karena harga pasar turun dalam, tetapi pajak, BBM, dan servis tidak ikut turun dengan persentase yang sama. Bagi keluarga yang kondisi finansialnya mudah terguncang, mobil-mobil seperti ini bisa berubah menjadi masalah bulanan yang terus berulang.
Meski begitu, mobil-mobil tersebut masih relevan untuk kolektor, enthusiast, atau pemilik yang sudah memiliki kendaraan harian lain. Dalam posisi itu, Alphard, Fortuner, Pajero Sport, hingga sedan Eropa lawas tetap menarik sebagai pilihan kedua, bukan tulang punggung mobilitas utama.
Source: www.suara.com




