Muhammad Ali Mengucap Dua Syahadat, Keputusan yang Mengguncang Amerika dan Mengubah Nasibnya

Keputusan Muhammad Ali mengucap dua kalimat syahadat pada 1964 menjadi salah satu momen paling mengguncang dalam sejarah olahraga Amerika. Langkah itu bukan hanya mengubah nama dan identitasnya, tetapi juga menempatkannya di tengah perdebatan besar soal agama, ras, dan kebebasan memilih jalan hidup.

Bagi publik Amerika, Cassius Marcellus Clay Jr. sudah terlanjur dikenal sebagai bintang tinju muda yang meroket. Namun setelah meraih medali emas Olimpiade 1960 dan merebut gelar juara dunia kelas berat usai mengalahkan Sonny Liston, ia mengambil keputusan yang membuat namanya semakin sulit diabaikan.

Perubahan identitas yang memicu reaksi besar

Ali memeluk Islam dan bergabung dengan Nation of Islam setelah mengucap syahadat. Ia kemudian meninggalkan nama Cassius Clay dan memilih menggunakan nama Muhammad Ali sebagai identitas barunya.

Pilihan itu langsung memantik reaksi luas di Amerika Serikat. Banyak media tetap memakai nama lamanya selama bertahun-tahun, sementara Ali menegaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari pencarian jati diri.

Perjalanan spiritualnya juga dipengaruhi Malcolm X. Keduanya bertemu pada awal 1960-an, lalu Malcolm X membantu Ali memahami Islam lebih dalam dan mengenal Nation of Islam.

Sikap tegas yang membuatnya makin disorot

Keputusan Ali memeluk Islam tidak berhenti pada urusan pribadi. Ia kemudian dikenal sebagai sosok yang berani melawan arus dan kerap berada di pusat perdebatan publik.

Salah satu titik paling penting terjadi ketika ia menolak wajib militer Amerika Serikat pada era Perang Vietnam. Ali menyatakan keyakinannya sebagai Muslim membuatnya menolak ikut perang, dan ucapannya, “Saya tidak punya masalah dengan rakyat Vietnam,” menjadi salah satu pernyataan paling dikenal dari dirinya.

Penolakan itu berbuah konsekuensi berat. Gelar juara dunianya dicabut, lisensi bertinjunya dibekukan, dan ia dijatuhi hukuman penjara, meski tetap bebas sambil mengajukan banding.

Selama lebih dari tiga tahun, Ali kehilangan masa terbaik dalam kariernya. Namun justru pada periode itu, namanya makin kuat sebagai simbol perjuangan hak sipil dan kebebasan berpendapat di Amerika.

Kembali ke ring dan memperkuat legenda

Setelah hukumannya dibatalkan Mahkamah Agung AS pada 1971, Ali kembali ke ring dan membangun salah satu kebangkitan paling terkenal dalam sejarah olahraga. Ia merebut lagi gelar juara dunia kelas berat dan melanjutkan deretan pertarungan yang kemudian menjadi bagian penting dari warisannya.

Duel melawan Joe Frazier dan George Foreman mempertegas statusnya sebagai petinju besar. Pertarungan “Thrilla in Manila” dan “Rumble in the Jungle” menunjukkan perpaduan teknik, mental, dan daya tarik global yang membuatnya berbeda dari banyak petinju lain.

Ali pensiun dari dunia tinju pada 1981. Tiga tahun setelah itu, ia mengumumkan bahwa dirinya mengidap penyakit Parkinson, tetapi kondisi tersebut tidak menghentikannya untuk tetap hadir dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Warisan yang melampaui olahraga

Di luar ring, Ali tetap dipandang sebagai ikon dunia. Ia menerima Presidential Medal of Freedom pada 2005 dan hadir pada pelantikan Barack Obama pada 2009, dua momen yang memperkuat posisinya dalam sejarah publik Amerika.

Namanya juga mendapat tempat khusus di Hollywood Walk of Fame. Bintang Muhammad Ali tidak dipasang di trotoar, melainkan di dinding dekat Dolby Theatre karena ia tidak ingin nama Nabi Muhammad diinjak oleh orang yang berjalan di atas trotoar.

Ali pernah menjelaskan alasannya dengan kalimat, “Saya menyandang nama Nabi Muhammad yang kita cintai, dan saya tidak ingin namanya diinjak-injak.” Ia menjadi satu-satunya tokoh dunia yang memiliki bintang Walk of Fame di dinding, bukan di lantai.

Muhammad Ali meninggal dunia pada 3 Juni 2016 dalam usia 74 tahun. Pengaruhnya tetap terasa hingga kini sebagai simbol keberanian, keyakinan, dan sikap teguh yang menjadikannya lebih dari sekadar legenda tinju.

Source: www.viva.co.id
Terkait