Mutia Hanifah atau Mudi menemukan jalan konservasi yang tidak biasa. Dari keraguan memilih jurusan kuliah, ia justru beralih menjadi penggerak edukasi satwa lewat media sosial dengan bahasa yang ringan dan dekat dengan publik.
Perjalanannya berubah saat ia berhadapan dengan realitas perdagangan satwa liar. Salah satu momen paling membekas datang ketika Mudi membaca kabar tentang Owa Jawa yang dijual hanya seharga Rp150 ribu.
Titik balik dari perdagangan satwa liar
Mudi adalah lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan kuliah di jurusan Biologi Konservasi Universitas Nasional. Ia mengaku pilihan jurusan itu bukan murni keinginannya, melainkan permintaan orang tua, sehingga selama kuliah ia sempat ragu apakah bidang itu benar-benar cocok untuk dirinya.
Keraguan itu berubah ketika pandemi COVID-19 pada 2020–2021 membatasi aktivitas lapangan. Di tengah ruang gerak yang sempit, Mudi memilih tetap terlibat sebagai relawan yang membantu mengumpulkan data perdagangan satwa liar, terutama owa.
Ia menelusuri laporan, mengikuti pemberitaan, dan mempelajari informasi tentang perdagangan, kelahiran, hingga kematian owa dari 2013 sampai 2021. Dari sana, ia melihat bahwa konservasi tidak hanya terjadi di hutan, tetapi juga di ruang publik dan pasar satwa.
Bagi Mudi, kabar Owa Jawa yang dijual murah terasa sangat menyesakkan. Ia sudah merasakan sulitnya menemukan satwa itu di habitat aslinya, sehingga harga yang rendah untuk hewan langka tersebut memunculkan sedih dan bingung sekaligus.
Berhenti bertahan di lapangan, lalu memilih edukasi
Sejak 2021, Mudi mulai lebih serius menekuni isu konservasi, terutama perdagangan satwa liar. Ia kemudian bergabung dengan sejumlah organisasi nonpemerintah dan lembaga lingkungan, tetapi bukan penelitian lapangan yang akhirnya membuatnya bertahan paling lama.
Ia menyadari bahwa bagian yang paling ia nikmati adalah berbicara dengan orang lain. Mudi juga merasa dekat dengan edukasi, anak-anak, dan aktivitas yang membawanya mengenal alam dengan cara yang lebih komunikatif.
Dari situ, ia memilih membuat konten edukasi di media sosial. Saat ini, Mudi bekerja sebagai content creator di penerbit buku anak dan aktif menjadi edukator konservasi di berbagai sekolah alam serta program lingkungan.
Lewat media sosial, ia mengenalkan satwa, konservasi, dan kebiasaan sederhana yang lebih ramah lingkungan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pendekatan itu membuat isu yang sering terasa berat menjadi lebih dekat bagi masyarakat luas.
Alam sebagai ruang belajar, bukan sekadar tempat liburan
Di luar kegiatan edukasi, Mudi juga menyebut dirinya sebagai eco-traveler. Baginya, bepergian ke alam bukan hanya soal menikmati pemandangan, tetapi juga soal menghormati lingkungan yang dikunjungi.
Ia menekankan kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum sendiri, membawa tempat makan sendiri, dan meminimalkan karbon saat bepergian. Langkah-langkah itu dipandangnya sebagai bentuk tanggung jawab yang bisa dilakukan siapa saja.
Pandangan tersebut sejalan dengan cara Mudi melihat konservasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang tidak harus menunggu menjadi peneliti atau ikut ekspedisi jauh untuk mulai mengambil peran.
Yang ingin ia dorong adalah perubahan cara pandang saat orang datang ke alam. Alam, kata gagasan yang ia bawa, tidak cukup diperlakukan sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menuntut rasa hormat dan kepedulian.
Perjalanan Mudi menunjukkan bahwa ruang digital bisa menjadi pintu masuk kuat untuk mengenalkan isu lingkungan. Dari layar ponsel, edukasi tentang satwa dan kebiasaan ramah lingkungan bisa menjangkau orang yang mungkin belum pernah masuk hutan, tetapi tetap bisa mulai peduli dan bertindak.
