Keraton Yogyakarta kembali menggelar Mubeng Beteng untuk memperingati malam 1 Suro, sebuah tradisi yang menempatkan hening dan refleksi sebagai pusat prosesi. Kegiatan ini berlangsung dari Selasa malam hingga Rabu dini hari dan terbuka untuk masyarakat umum.
Di tengah suasana pergantian tahun Jawa, tradisi ini menjadi ruang bersama untuk menata kembali batin dan menyambut awal baru dengan sikap tertib. Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanegara, menyebut prosesi ini sebagai upaya menyatukan rasa demi menyambut tahun baru yang lebih baik.
Dimulai dengan macapat di Bangsal Pancaniti
Rangkaian Mubeng Beteng dibuka dengan pembacaan macapat di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti pada pukul 21.00 WIB. Agenda ini menjadi pengantar doa dan refleksi sebelum peserta memasuki prosesi utama yang berlangsung hingga tengah malam.
Pembacaan macapat dijadwalkan sampai pukul 23.00 WIB. Setelah itu, peserta bersiap menjalani tapa bisu, yakni perjalanan hening mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta.
Tapa bisu mengelilingi benteng keraton
Inti prosesi Mubeng Beteng adalah berjalan tanpa suara mengitari benteng keraton dalam suasana khidmat. Laku ini dimaknai sebagai bentuk introspeksi diri, prihatin, dan penyambutan tahun baru Jawa dengan kesadaran penuh.
Melalui akun Instagram @kratonjogja, peringatan 1 Suro disebut sebagai momentum reflektif dan kontemplatif bagi masyarakat Jawa. Bulan Suro juga dipandang sebagai waktu yang tepat untuk pembersihan diri dalam Kalender Jawa Sultanagungan.
Aturan busana dan ketertiban peserta
Keraton Yogyakarta juga memberi imbauan soal busana agar prosesi tetap selaras dengan nilai budaya yang dibawa. Untuk abdi dalem, keraton meminta penggunaan busana pranakan dan kebaya jangkep.
Bagi masyarakat umum, pakaian bebas tetap diperbolehkan selama rapi, sopan, dan nyaman. Peserta diminta tidak memakai celana pendek serta menjaga ketertiban agar suasana khidmat tetap terjaga sepanjang prosesi.
Rangkaian malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta
Mubeng Beteng menjadi salah satu bagian dari rangkaian peringatan malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta. Selain itu, ada pula agenda budaya lain yang ikut mengisi malam sakral tersebut.
| Agenda | Keterangan |
|---|---|
| Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan “Jaya Berdangga” | Bagian dari rangkaian peringatan malam 1 Suro |
| Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng | Prosesi utama berjalan hening mengelilingi benteng keraton |
| Hajad Dalem Jamasan Pusaka dan Rata | Agenda budaya lain dalam peringatan yang sama |
Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini juga mendapat fasilitasi dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran masyarakat umum menunjukkan bahwa Mubeng Beteng tetap menjadi ruang budaya yang hidup, sekaligus sarana memasuki tahun baru Jawa dengan tertib dan penuh makna.
