Rencana koneksi antara Stasiun MRT Monas dan Stasiun Gambir berpotensi mengubah pengalaman perjalanan di pusat Jakarta. Penumpang nantinya disiapkan memiliki akses perpindahan moda yang lebih terhubung antara jaringan MRT dan kereta api.
Dua stasiun tersebut berada di sisi berbeda kawasan pusat kota, dengan Stasiun MRT Monas di sisi barat dan Gambir di sisi timur. Integrasi yang masih dirancang ini menjadi penting karena Gambir juga tengah menjalani revitalisasi untuk memperkuat perannya sebagai simpul transportasi.
Rencana Akses Masih Dibahas MRT Jakarta dan KAI
PT MRT Jakarta (Perseroda) telah membicarakan rencana koneksi tersebut bersama PT KAI. Pembahasan dilakukan bersamaan dengan proses revitalisasi Stasiun Gambir yang diproyeksikan selesai pada 2028.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Weni Maulina menyampaikan, perencanaan integrasi diarahkan untuk menyambungkan kedua stasiun dari sisi barat ke sisi timur. Bentuk aksesnya belum diputuskan karena pembahasan teknis dengan PT KAI masih berjalan.
Kemungkinan penggunaan jalur bawah tanah ikut masuk dalam opsi yang sedang dikembangkan. Namun, MRT Jakarta belum menjelaskan desain akhir, jalur yang akan dipakai, maupun bentuk fasilitas perpindahan bagi penumpang.
Weni mengatakan, “Kami juga sudah bertemu dengan pihak manajemen KAI untuk menyiapkan atau membuat sebuah perencanaan yang mengkoneksikan dari Stasiun (MRT) Monas, kami kebetulan di sisi barat, dengan stasiun Gambir yang saat ini juga sedang direvitalisasi, yang ada di sisi timur.” Pernyataan itu menegaskan bahwa rencana koneksi masih berada pada tahap penyusunan perencanaan bersama.
| Lokasi | Posisi Kawasan | Status dan Target |
|---|---|---|
| Stasiun MRT Monas | Sisi barat | Ditargetkan beroperasi akhir 2027 |
| Stasiun Gambir | Sisi timur | Direvitalisasi, ditargetkan selesai 2028 |
Target Operasi dan Revitalisasi Berbeda Waktu
Stasiun MRT Monas ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027. Sementara revitalisasi Stasiun Gambir diproyeksikan rampung setahun setelahnya, yakni pada 2028.
Perbedaan jadwal itu membuat detail integrasi antarkedua stasiun masih menjadi pekerjaan lanjutan. Konektivitasnya akan bergantung pada hasil pengembangan desain serta kesepakatan teknis antara MRT Jakarta dan PT KAI.
Rencana tersebut tidak hanya berkaitan dengan akses fisik antargedung stasiun. Tujuan utamanya adalah menciptakan perpindahan perjalanan yang lebih baik bagi pengguna angkutan umum di kawasan pusat Jakarta.
Gambir Diproyeksikan Menjadi Simpul Perkeretaapian
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut revitalisasi Gambir ditujukan untuk memperkuat konektivitas antar-moda di Jakarta. Stasiun itu juga diproyeksikan menjadi hub perkeretaapian di Indonesia.
Menurut Dudy, Gambir diharapkan dapat menjadi tempat naik dan turun KRL. Peran tersebut disiapkan agar penumpang dapat lebih mudah berpindah menuju sejumlah moda transportasi lain.
Saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada 17 Juni 2026, Dudy menyatakan bahwa Gambir nantinya dapat terkoneksi dengan beberapa stasiun dan moda transportasi. Ia menyebut jaringan perjalanan dapat terhubung ke LRT, Whoosh dari Stasiun Cawang, hingga akses menuju bandara.
Penguatan fungsi Gambir sebagai hub membuat rencana sambungan dengan MRT Monas memiliki arti strategis. Penumpang dapat memperoleh pilihan perjalanan yang lebih terintegrasi ketika desain akses kedua stasiun telah ditetapkan.
Minat Angkutan Umum Jakarta Terus Tumbuh
Rencana integrasi Monas-Gambir muncul ketika penggunaan angkutan umum di Jakarta menunjukkan pertumbuhan. Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat jumlah penumpang angkutan umum di Jakarta meningkat secara tahunan pada Mei 2026.
Kenaikan minat tersebut memperbesar kebutuhan akan titik perpindahan moda yang mudah diakses dan saling terhubung. Meski demikian, calon pengguna masih perlu menunggu kepastian desain koneksi, termasuk keputusan mengenai kemungkinan terowongan bawah tanah atau bentuk akses lainnya.
Source: finance.detik.com






