Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan, menempuh cara yang tidak biasa untuk menegakkan aturan sejak hari pertama. Sekolah memanggil barber untuk merapikan rambut siswa baru yang belum sesuai ketentuan.
Langkah itu menjadi bagian dari pembiasaan disiplin selama MPLS, bukan hukuman yang dimaksudkan untuk mempermalukan siswa. Pihak sekolah menegaskan bahwa konsekuensi yang diberikan tetap diarahkan agar murid baru cepat menyesuaikan diri dengan tata tertib.
Aturan Kerapihan Diterapkan Sejak Awal
Wakil Ketua OSIS SMA Labschool Kebayoran, Tibiadzka Keiko, menjelaskan bahwa aturan rambut bagi murid baru sudah disampaikan sejak awal. Untuk siswa laki-laki, rambut minimal tidak boleh lewat alis, sedangkan siswa perempuan umumnya diminta mengikat rambut.
Aturan itu berjalan seiring dengan ketentuan lain soal seragam dan kerapihan. Menurut Tibiadzka, fokus sekolah pada MPLS kali ini memang lebih banyak menyangkut seragam dan penampilan yang sesuai dengan aturan.
Ketika siswa baru datang, sekolah menemukan cukup banyak yang belum memenuhi ketentuan tersebut. Alih-alih memberi sanksi keras, pihak sekolah memilih langkah yang tetap edukatif dengan mengundang barber agar rambut siswa dirapikan langsung.
| Ketentuan | Untuk Siapa | Penjelasan |
|---|---|---|
| Rambut tidak lewat alis | Siswa laki-laki | Menjadi batas kerapihan yang harus dipenuhi sejak awal masuk sekolah. |
| Rambut diikat | Siswa perempuan | Umumnya diminta agar penampilan sesuai tata tertib sekolah. |
Ketua MPK SMA Labschool Kebayoran, Andhika Bramantyo, menyebut sekolah memfasilitasi murid yang perlu menyesuaikan rambutnya dengan memanggil barber. Ia menekankan bahwa konsekuensinya tetap ada, tetapi tidak berlebihan.
“Sekolah tuh manggil barber. Jadi dirapihin langsung gitu. Jadi siswanya juga yang tidak menaati aturan juga harus diperlakukan konsekuensi kan, tapi sekali lagi konsekuensinya juga masih enak lah. Soalnya kan sama barber gitu, gak dicukur pitak gitu kan,” ujarnya.
Bukan Perpeloncoan, Tapi Pengingat Disiplin
Pihak sekolah menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk perpeloncoan. Tujuannya adalah memberi pengingat sejak awal agar siswa baru terbiasa menaati aturan yang berlaku di lingkungan sekolah.
Selama MPLS, siswa juga akan menerima penjelasan dari Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan mengenai atribut yang boleh dan tidak boleh digunakan. Jika ada pelanggaran, sekolah menyiapkan prosedur seperti surat keterangan atau surat peringatan.
Pendekatan itu membuat penegakan tata tertib berjalan bersamaan dengan proses adaptasi. Dengan begitu, siswa baru tidak hanya dikenalkan pada lingkungan sekolah, tetapi juga pada standar disiplin yang harus dijalankan sejak hari pertama.
Rangkaian MPLS Masih Berjalan
Selama 5 hari MPLS, murid baru SMA Labschool Jakarta mengikuti berbagai kegiatan pengenalan yang disiapkan sekolah. Dua siswa baru, Sandrina Emily Damanik dan Qayz Algebra, mengaku antusias menyambut rangkaian acara yang masih berlangsung beberapa hari lagi.
Sandrina menantikan hari kelima pada Jumat, (17/7/2026), yang akan digelar di luar sekolah di sebuah taman. Pada penutupan itu akan ada field trip, talent show, dan beberapa kegiatan lain yang menjadi sorotannya.
Qayz juga menunggu hari kelima karena ada kunjungan ke Taman Nasional dan pentas seni. Selain itu, ia menantikan hari kedua dan ketiga yang berisi kegiatan olahraga, termasuk basket bersama teman-temannya.
Dengan kombinasi penegakan aturan dan kegiatan pengenalan yang beragam, MPLS di SMA Labschool Kebayoran tidak hanya membahas tata tertib. Sekolah juga memberi ruang bagi murid baru untuk beradaptasi melalui aktivitas yang tetap terarah selama masa pengenalan berlangsung.







