
Motorola Razr Fold datang sebagai penanda penting bagi Motorola di pasar ponsel lipat bergaya buku. Perangkat ini langsung menarik perhatian lewat layar besar, kamera yang ambisius, dan baterai 6.000mAh, tetapi tiga kekurangan utamanya membuat sebagian pembeli mungkin masih ingin menahan diri.
Di atas kertas, Razr Fold terlihat seperti foldable yang paling matang dari Motorola sejauh ini. Namun, harga $1.900, aksesori pelindung yang masih minim, dan pengalaman software yang belum selalu paling cepat menerima fitur baru membuat keputusan beli jadi lebih rumit.
Kamera dan performa jadi daya tarik utama
Razr Fold membawa tiga sensor belakang 50MP, dan hasil fotonya dinilai cerah serta hidup. Motorola menggabungkan sensor Sony Lytia dengan sentuhan Pantone, sehingga warna terlihat punchy dan menarik.
Sisi kamera juga dibuat praktis untuk penggunaan sehari-hari. Ponsel ini bisa dibuka dengan memutar dua kali, lalu memanfaatkan Action Shot untuk subjek bergerak cepat, sementara layar luar bisa dipakai sebagai viewfinder selfie atau layar pratinjau.
Di sektor performa, Motorola membekali perangkat ini dengan Snapdragon 8 Gen 5 dan RAM 16GB. Kombinasi tersebut mendukung multitasking yang mulus dan membuat game berat tetap nyaman dimainkan.
Hasil pengujian yang disebutkan juga terlihat solid. Angkanya mencakup Geekbench 6 single-core 2766, multi-core 9054, GPU OpenCL 17878, GPU Vulkan 21755, dan 3DMark Wild Life Extreme 4858.
Baterai besar di bodi tipis
Salah satu nilai jual paling kuat datang dari baterai silikon-karbon 6.000mAh. Motorola memasangnya dalam bodi yang sangat tipis, sesuatu yang dimungkinkan oleh teknologi silikon-karbon yang memberi kapasitas lebih besar di ruang lebih padat.
Dalam penggunaan harian, daya tahannya disebut sangat mengesankan. Perangkat ini mudah bertahan lebih dari sehari dan mendukung pengisian cepat 80W dengan charger serta kabel USB-C yang kompatibel.
Layar besar dan mode lipat yang fungsional
Razr Fold juga mengandalkan dua layar yang sama-sama besar. Layar luarnya berukuran 6,6 inci dengan refresh rate 165Hz dan kecerahan puncak 6.000 nits, sedangkan layar utama 8,1 inci memberi ruang luas untuk bekerja dan menonton.
Motorola memaksimalkan bentuk lipat itu lewat multitasking. Pengguna bisa menjalankan tiga aplikasi sekaligus lewat split-screen, lalu menambahkan aplikasi keempat dalam mode floating freeform.
Desk Mode, Laptop Mode, dan stylus baru
Saat dilipat pada sudut tertentu, perangkat ini masuk ke Desk Mode. Mode tersebut menampilkan jam, kalender, tugas mendatang, dan notifikasi seperti layar meja pintar.
Saat dibuka miring seperti laptop, Laptop Mode mengubah bagian bawah layar menjadi trackpad. Mode ini juga menampilkan shortcut khusus, dan keyboard penuh muncul otomatis saat pengguna mengetik di kolom teks.
Motorola juga menyertakan dukungan software panjang. Perusahaan menjanjikan tujuh tahun pembaruan OS dan pembaruan keamanan dua bulanan, yang menjadi nilai tambah penting untuk ponsel sekelas ini.
Ada pula Moto Pen Ultra sebagai stylus aktif khusus. Aksesori ini mendukung sensitivitas tekanan, tilt detection, Bluetooth, remote shutter, dan tombol samping untuk fitur seperti Circle to Search.
Tiga alasan yang bisa membuat calon pembeli ragu
Harga menjadi hambatan paling jelas. Razr Fold dibanderol $1.900, menjadikannya salah satu ponsel paling mahal yang pernah dijual Motorola.
Harga itu memang masih $100 lebih murah dari Galaxy Z Fold 7 saat peluncuran, tetapi tetap $100 lebih mahal dari Pixel 10 Pro Fold saat diluncurkan tahun lalu. Ketersediaannya juga belum merata, karena Motorola menyebut distribusi di T-Mobile, Xfinity Mobile, dan Verizon baru hadir dalam beberapa bulan mendatang.
Kekurangan berikutnya ada pada aksesori pelindung. Perangkat ini memang memakai material alternatif di bagian belakang, bukan kaca, tetapi ponsel semahal ini idealnya dilengkapi case.
Masalahnya, pilihan case masih sangat terbatas. Motorola baru punya satu case resmi dalam dua warna, dan itu pun belum hadir sampai 12 Juni, sementara opsi dari merek besar juga belum banyak.
Keraguan terakhir datang dari sisi software. Motorola memang membaik dalam dukungan jangka panjang, tetapi soal kecepatan mendapat fitur baru, Pixel dan Samsung masih sering lebih dulu.
Contohnya, dukungan Quick Share untuk AirDrop lebih dulu hadir di Pixel lalu meluas ke Samsung sebelum sampai ke perangkat lain. Bagi pembeli yang ingin fitur terbaru secepat mungkin, kondisi ini masih bisa memicu FOMO.





