
Motorola mulai memainkan kartu yang lebih berani di pasar ponsel lipat premium. Razr Fold tidak lagi sekadar memperkuat lini clamshell, tetapi hadir sebagai penantang langsung di kelas book-style foldable yang selama ini identik dengan Samsung Galaxy Z Fold.
Perangkat ini menarik perhatian karena menawarkan paket yang sangat agresif. Motorola menggabungkan desain tipis, baterai besar, kamera flagship, dan pengalaman multitasking berbasis Android 16 dalam satu perangkat lipat yang ditujukan untuk pengguna premium.
Baterai 6.000mAh jadi senjata utama
Poin paling mencolok dari Razr Fold ada pada sektor daya. Motorola membekalinya dengan baterai 6.000mAh berbasis teknologi silikon-karbon, yang diklaim punya kepadatan energi lebih tinggi dibanding baterai lithium-ion konvensional.
Teknologi itu membantu Motorola menjaga bodi tetap tipis meski kapasitas baterainya besar. Android Central menyebut daya tahan baterai sebagai salah satu keunggulan utama perangkat ini dibanding beberapa foldable premium lain di pasar.
Motorola juga menambahkan pengisian cepat 80W wired charging dan 50W wireless charging. Kombinasi ini memperlihatkan bahwa persaingan foldable kini tidak hanya soal ketipisan, tetapi juga soal efisiensi daya dan kecepatan isi ulang.
Spesifikasi flagship untuk pasar premium
Di sisi performa, Motorola menanamkan Snapdragon 8 Gen 5, RAM 16GB, dan penyimpanan internal 512GB. Susunan ini menempatkan Razr Fold di kelas flagship yang memang diarahkan untuk pengguna dengan kebutuhan tinggi.
Layar lipat internalnya berukuran 8,1 inci, sementara layar eksternalnya 6,6 inci. Keduanya memakai panel AMOLED dengan refresh rate tinggi, sehingga Motorola mencoba menjaga pengalaman visual tetap mulus di dua mode penggunaan.
Kamera dan fitur produktivitas ikut dipoles
Motorola juga memberi perhatian besar pada sektor kamera. Razr Fold mengandalkan tiga sensor utama 50MP dengan dukungan sensor Sony Lytia dan validasi warna Pantone.
Konfigurasinya mencakup lensa utama, ultrawide, dan telephoto dengan zoom optik hingga 3x. Kualitas kamera ini ikut disorot karena disebut sebagai salah satu kejutan terbesar Motorola pada 2026.
Di sisi software, Motorola menggarap produktivitas lewat Hello UX berbasis Android 16. Sistem ini membawa fitur split-screen adaptif, desktop mode, dan laptop mode saat perangkat dihubungkan ke layar eksternal atau smart glasses.
Siap dipakai seperti desktop portabel
Integrasi Smart Connect membuat Razr Fold bisa bekerja seperti desktop portabel ketika dipasangkan dengan perangkat XR glasses seperti Viture Beast atau Xreal. Pengguna dapat menjalankan mode produktivitas, video call, hingga gaming melalui tampilan virtual berukuran besar.
Motorola juga menyiapkan Moto Pen Ultra yang mendukung sensitivitas tekanan dan fitur AI seperti Sketch to Image. Aksesori ini mempertegas arah Motorola yang ingin membuat Razr Fold lebih dari sekadar ponsel lipat, tetapi juga alat kerja dan kreasi.
Tantangan datang dari harga dan ekosistem
Meski ambisius, Razr Fold tetap membawa beberapa catatan penting. Harganya mencapai US$1.899, angka yang cukup tinggi untuk merek yang selama ini lebih dikenal lewat perangkat kelas menengah.
Ekosistem aksesori dan optimalisasi software juga masih dinilai belum sekuat Samsung Galaxy Z Fold. Di komunitas pengguna Android, Razr Fold tetap mendapat pujian karena kualitas layar, desain hinge, dan minimnya lipatan pada layar utama.
Ada pula pertanyaan soal konsistensi pembaruan software Motorola. Untuk meredakan keraguan itu, Motorola menjanjikan dukungan pembaruan sistem operasi dan keamanan hingga tujuh tahun.
Janji tersebut penting karena menjadi bagian dari upaya Motorola membangun kepercayaan di pasar premium. Standar dukungan software panjang selama ini lebih sering dikaitkan dengan Samsung dan Google, sehingga langkah ini menjadi sinyal bahwa Motorola ingin mengejar level yang sama.
Source: selular.id




