
Motor bebek masih bertahan di pasar Indonesia meski sorotan konsumen kini lebih banyak tertuju ke skutik. Hingga menjelang pertengahan tahun ini, hanya tiga pabrikan yang masih aktif menjual motor bebek, yaitu Honda, Yamaha, dan TVS.
Keberadaan model-model tersebut menunjukkan bahwa segmen bebek belum benar-benar hilang, terutama untuk konsumen yang mencari motor harian yang irit, sederhana, dan mudah dirawat. Di sisi lain, sebagian model juga tetap dipertahankan karena punya daya tarik nostalgia dan citra klasik yang masih dicari pasar.
Tiga pabrikan yang masih bertahan
Honda menjadi merek dengan portofolio paling lengkap di kelas ini. Yamaha masih menjaga beberapa model penting, sementara TVS tetap hadir lewat produk yang lebih fungsional dan menyasar kebutuhan kerja.
Ketiganya menempati ceruk yang berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa motor bebek belum sepenuhnya tersingkir dari etalase produk. Di pasar yang makin didominasi skutik, motor bebek masih punya pembeli loyal yang mengutamakan efisiensi dan biaya pakai rendah.
Daftar motor bebek yang masih dijual
Berikut model motor bebek yang masih tersedia beserta harga acuan yang tercatat:
| No | Model | Harga |
|---|---|---|
| 1 | TVS Neo XR | Rp14,9 juta |
| 2 | TVS XL100 | Rp15,2 juta |
| 3 | Honda Revo Fit | Rp18,085 juta |
| 4 | Yamaha Vega Force | Rp19,9 juta |
| 5 | Honda Revo X | Rp20,015 juta |
| 6 | Honda Supra X 125 Spoke FI | Rp21,5 juta |
| 7 | Yamaha Jupiter Z1 | Rp22,28 juta |
| 8 | Honda Supra X 125 CW FI | Rp22,525 juta |
| 9 | Honda Supra GTR 150 Sporty | Rp27,39 juta |
| 10 | Honda Supra GTR 150 Exclusive | Rp27,64 juta |
| 11 | Yamaha MX King 150 | Rp28,725 juta |
| 12 | Honda Super Cub C125 | Rp80,241 juta |
| 13 | Honda CT125 | Rp82,839 juta |
Rentang harga itu sangat lebar, dari kelas entry level hingga model premium. Kondisi ini memperlihatkan bahwa motor bebek tidak hanya diposisikan sebagai kendaraan murah, tetapi juga sebagai produk gaya hidup dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Honda masih paling dominan
Honda terlihat paling agresif menjaga eksistensi motor bebek di Indonesia. Pabrikan ini menawarkan pilihan dari Revo Fit dan Revo X yang ekonomis, lalu berlanjut ke Supra X 125, Supra GTR 150, hingga Super Cub C125 dan CT125 yang membawa nuansa retro dan petualangan.
Strategi itu membuat Honda tetap relevan di segmen yang terus menyusut. Ragam modelnya memberi pilihan bagi konsumen yang membutuhkan motor kerja, kendaraan harian, atau unit dengan tampilan klasik yang menonjol.
Pasar kecil, tetapi belum hilang
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia atau AISI menunjukkan skutik masih sangat dominan dengan kontribusi 91,7 persen. Motor bebek berada di posisi kedua dengan pangsa 4,46 persen, disusul motor sport sebesar 3,51 persen.
Angka tersebut menegaskan bahwa pasar bebek memang kecil, tetapi belum mati. Di tengah total penjualan sepeda motor nasional yang mencapai 6,4 juta unit dan tumbuh 1,3 persen, segmen bebek tetap punya tempat karena masih dibutuhkan oleh konsumen dengan preferensi yang spesifik.
Motor bebek juga masih dipilih karena dianggap praktis untuk mobilitas harian dan cukup tangguh untuk penggunaan rutin. Selama kebutuhan itu masih ada, Honda, Yamaha, dan TVS kemungkinan tetap mempertahankan lini bebek mereka di Indonesia.





