Mojtaba Khamenei diperkirakan tidak akan memberi sinyal lunak saat tampil perdana di hadapan publik pada 23 Juli 2026. Pengamat geopolitik internasional Pitan Daslani menilai pesan yang akan diulang tetap keras terhadap Amerika Serikat.
Menurut Pitan, inti sikap itu masih berputar pada tiga tuntutan lama: pencabutan seluruh sanksi terhadap Iran sejak 1979, penarikan pasukan Amerika Serikat dari negara-negara Arab, dan pembayaran ganti rugi US$ 500 miliar kepada Iran.
3 Tuntutan yang Disebut Akan Diulang
| Tuntutan Iran ke AS | Isi Tuntutan |
|---|---|
| Sanksi | Seluruh sanksi terhadap Iran sejak 1979 harus dicabut |
| Pasukan AS | Seluruh pasukan AS di negara-negara Arab harus ditarik dari kawasan tersebut |
| Ganti rugi | Amerika Serikat diminta membayar US$ 500 miliar kepada Iran |
Pitan menyampaikan penilaian itu kepada Beritasatu.com pada Kamis (16/7/2026). Ia juga menyebut Iran sebelumnya sudah menempuh pola ultimatum ketika berbicara kepada Washington.
Dalam skenario balasan yang pernah disebutkan, Iran bisa menutup Selat Hormuz untuk selama-lamanya, membuka wilayahnya untuk pembangunan pangkalan militer asing, dan menggunakan kekuatan nuklirnya.
Risiko Ketegangan Bagi Kawasan
Pitan menilai Mojtaba Khamenei memiliki karakter yang lebih keras dibandingkan Ali Khamenei, ayahnya sekaligus pendahulunya. Karena itu, ia menilai kecil kemungkinan Iran akan melunak terhadap tekanan Washington.
Ia juga mengatakan pergantian rezim di Iran akan sulit terjadi tanpa intervensi angkatan bersenjata, seperti yang pernah terjadi di Irak pada 2003. Jika skenario itu benar-benar ditempuh, Amerika Serikat disebut harus menanggung biaya perang yang besar dan risiko korban jiwa yang tinggi.
Menurut Pitan, kekuatan militer Iran yang disebut mencapai lebih dari 1 juta orang serta kesiapan masyarakatnya menjadi faktor penting dalam hitungan tersebut. Di saat yang sama, dinamika Iran dan Amerika Serikat tetap berpotensi memengaruhi pasar energi global, terutama harga minyak dunia.
Selat Hormuz dan Kepentingan Negara Arab
Pitan menilai sejumlah negara Arab ikut berkepentingan menjaga jalur distribusi energi tetap terbuka, termasuk melalui Laut Merah dan Selat Hormuz. Kuwait, Bahrain, Oman, dan Qatar disebut sebagai negara yang ekspornya harus melewati selat yang sempit itu.
Arab Saudi dinilai berada dalam posisi yang relatif tenang karena masih bisa menyalurkan minyak lewat Laut Merah. Pitan menyebut Arab Saudi menyalurkan 7 juta barel minyak per hari lewat pipa ke Red Sea sejak minggu sebelumnya.
Ia menilai pertimbangan itu juga mendorong Arab Saudi memperbaiki hubungan diplomatik dengan Iran. Langkah tersebut, menurut dia, berkaitan dengan upaya menjaga jalur distribusi energi agar tetap aman di tengah ketegangan kawasan.
Perang, Politik, dan Kalkulasi Biaya
Pitan juga menyebut konflik Amerika Serikat dan Iran sejak awal dipahami sebagai konfrontasi militer antarpasukan, bukan serangan terhadap infrastruktur sipil. Menurutnya, tujuan awal pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengganti rezim Iran dan menghentikan program pengayaan uranium belum terwujud.
Ia mengutip pernyataan Ketua Kongres dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, yang menolak rencana pengajuan anggaran US$ 1,15 triliun karena perang dilakukan tanpa persetujuan Kongres, tanpa strategi, dan tanpa kejelasan cara mengakhirinya. Dari situ, Pitan menilai hitung-hitungan politik dan biaya perang akan ikut menentukan arah ketegangan berikutnya.
Di tengah semua itu, Iran disebut tetap menyiapkan bahasa politik yang keras untuk menghadapi tekanan Washington. Jika ultimatum itu benar-benar diulang, tiga tuntutan lama kembali menjadi pusat perhatian dalam hubungan kedua negara.
