Mobil Listrik Bekas Tak Laku Bukan Karena Harga, Melainkan Karena Satu Hal Ini Belum Ada

Pasar mobil listrik bekas di Indonesia belum bergerak seperti yang banyak orang bayangkan, meski minat terhadap kendaraan listrik terus tumbuh. Di tengah sekitar 1,5 juta mobil bekas yang terjual setiap tahun, jejak pasar untuk mobil listrik bekas masih sangat tipis.

Di lapangan, kondisi itu terlihat jelas dari harga dan pergerakan unit. Sebuah Hyundai IONIQ 5 2022 di lot mobil bekas MGK Kemayoran dipajang di kisaran Rp 350 jutaan, padahal pemilik pertamanya disebut membayar Rp 800 juta tiga tahun lalu dan mobil itu masih belum berpindah tangan.

Pasar baru yang langsung ditekan pasar baru

Masalah utama bukan sekadar harga bekas yang turun cepat. Di pasar yang masih muda, nilai mobil listrik bekas justru ikut ditekan oleh diskon agresif pada unit baru, terutama dari produsen Tiongkok yang disebut memberi potongan Rp 100 juta hingga Rp 150 juta.

Akibatnya, pasar baru menggerus pasar bekas bahkan sebelum pasar bekas sempat terbentuk kuat. Kondisi itu membuat mobil listrik bekas sulit bersaing dengan unit baru yang harganya terus dipangkas.

Contohnya terlihat pada beberapa model yang sudah turun tajam. Wuling Air EV tahun 2022 dijual Rp 95 juta, BYD Seal yang dulu mendekati Rp 640 juta kini berada di kisaran Rp 320 juta, dan IONIQ 5 turun lagi Rp 120 juta hanya dalam empat bulan pertama tahun ini.

Yang ditakuti pembeli bukan umur mobil, tapi baterai

Namun depresiasi cepat ternyata hanya gejala. Pertanyaan paling besar saat inspeksi mobil listrik bekas justru soal kondisi baterai, dan pada titik ini pasar belum punya jawaban yang meyakinkan.

Pada mobil bensin, mekanik berpengalaman bisa memeriksa kondisi mesin, transmisi, dan komponen lain dengan cepat. Pada mobil listrik, komponen termahal tersembunyi di dalam paket baterai tertutup, sementara penurunan kapasitas terjadi bertahap dan tidak merata.

Risikonya juga besar. Paket pengganti untuk IONIQ 5 yang dibeli melalui Hyundai disebut mencapai Rp 300 juta hingga Rp 400 juta, angka yang dalam banyak kasus lebih mahal dari harga jual mobil bekas itu sendiri.

Dalam situasi seperti ini, pembeli wajar berhati-hati. Pasar mobil bekas Indonesia juga sangat bergantung pada pembiayaan, karena sekitar separuh pembelian mobil bekas dibiayai kredit, sehingga pemberi pinjaman ikut menilai risiko dengan sangat ketat.

Belum ada alat ukur yang dipercaya pasar

Selama puluhan tahun, pasar mobil bekas di Indonesia bertumpu pada kendaraan yang mudah dipahami. Mesin bensin Jepang punya pola pakai, biaya perawatan, dan nilai jual yang bisa dibaca oleh mekanik di banyak kota.

Mobil listrik belum masuk ke sistem itu. Bukan karena kualitasnya lebih rendah, melainkan karena alat untuk menilai kondisi sebenarnya belum tersedia secara luas di pasar ini.

Di celah tersebut, bengkel independen mulai mencoba mengisi kekosongan. Dirgantara Bastian lewat Dirgantara Auto Project di Tangerang membongkar paket baterai BYD E6, merekondisi modul Wuling Air EV, dan mengerjakan baterai IONIQ sel demi sel.

Respons pemilik mobil menunjukkan masalah yang sama. Banyak di antara mereka datang karena biaya perbaikan yang ditawarkan lebih tinggi daripada nilai mobilnya sendiri.

Rekondisi baterai jadi opsi, tapi belum terstandar

Pendekatan seperti ini bukan hal baru di industri global. Di Jepang, paket baterai rekondisi sudah lama dijual dengan harga setengah dari harga OEM, dengan performa lebih dari 75% kapasitas asli.

Di Indonesia, praktik serupa masih berjalan manual. Logikanya sederhana, karena tidak semua baterai harus diganti penuh, pasar seharusnya punya opsi yang lebih masuk akal daripada membeli paket baru yang sangat mahal.

Dari sisi industri, kemampuan teknisnya sebenarnya juga sudah dikenal. Pengalaman membangun Audi High Voltage Competence Center di Singapura menunjukkan bahwa pelatihan teknisi resmi untuk menangani komponen tegangan tinggi sudah pernah diterapkan lebih terstruktur di kawasan Asia Pasifik.

Standar kesehatan baterai jadi kunci

Masalah terbesar tetap soal kepercayaan. Audit standar kondisi kesehatan baterai yang menyertai mobil listrik bekas bisa mengubah transaksi karena pembeli akan mendapat data kapasitas sisa yang jelas.

Format seperti itu juga penting bagi pembiayaan. Jika kondisi baterai bisa dibaca dalam angka yang kredibel, pemberi pinjaman akan lebih mudah menilai risiko dan pasar pun lebih siap bergerak.

Sejumlah negara sudah mulai ke arah itu, termasuk Jerman dan Korea Selatan yang bergerak menuju pengungkapan wajib kondisi kesehatan baterai untuk penjualan mobil listrik bekas. Indonesia sebenarnya punya kepentingan lebih besar untuk bergerak cepat karena sudah memiliki lebih dari 15.000 kendaraan listrik di jalan dan menargetkan diri menjadi produsen baterai terbesar ketiga di dunia pada 2027.

Survei konsumen juga menunjukkan sekitar 78% orang Indonesia menganggap diri mereka calon pembeli EV. Yang belum tersedia bukan minatnya, melainkan informasi yang cukup untuk membuat pembeli percaya pada mobil listrik bekas yang mereka lihat di depan mata.

Source: www.bincangbincangmobil.com

Baca Juga

Back to top button